Kamis, 10 November 2011

Ucapan Syukur Yunus



Yunus 2:1-10

1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,
2 katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.
3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?
5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku
6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.
7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.
8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.
9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!"
10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat 

Perikop di atas menceritakan tentang Yunus yang berdoa di dalam perut ikan. Di dalam doanya, Yunus mengucap syukur kepada Allah. Dalam pasal sebelumnya, dijelaskan bagaimana Yunus dipanggil Allah untuk menyampaikan Firman Allah kepada penduduk Niniwe supaya mereka berbalik kepada Allah dan bertobat. Akan tetapi, Yunus tidak menaati Allah dan lari dari panggilan Allah. Allah menyuruhnya untuk pergi ke Niniwe, tetapi dia hanya pergi ke Tarsis. Niniwe adalah sebuah kota besar yang terletak di sebelah Timur Israel, sedangkan Tarsis berada di sebelah Barat dekat Spanyol. Allah menyuruh Yunus pergi ke daerah Timur, Ninewe, tetapi dia hanya melarikan diri jauh dari hadapan Tuhan ke arah Barat, Tarsis. Yunus berbelok 180° dari perintah Allah.

Ketidaksetiaan dan ketidakpatuhan Yunus ini mendapat ganjaran dari Allah dengan membiarkannya ditelan oleh ikan yang besar dan berada di dalam perut ikan itu selama 3 hari 3 malam. Akhirnya, ganjaran dari Allah ini membuat Nabi Yunus menjadi sadar dan menyesal atas apa yang telah dilakukannya. Namun, satu hal yang perlu kita contohi dari Nabi Yunus ini adalah ketika dia menderita berada di dalam perut ikan selama 3 hari 3 malam, Yunus berdoa kepada Allah. Di dalam doanya, Yunus mengucap syukur kepada Allah dan bukannya mengeluh atas apa yang terjadi. Di dalam doanya tersingkap nada penyesalan Yunus atas apa yang telah dilakukannya.

Hal inilah yang akan kita pelajari dari Yunus: walaupun dalam keadaan susah dan sulit, Yunus tetap mengucap syukur dalam doanya ketika ia berdoa di dalam perut ikan. Bagaimanakah Yunus mengucap syukur:

1.      Yunus mengucap syukur atas apa yang ia alami

Yunus menyadari bahwa apa yang ia alami, ditelan oleh ikan ialah karena kesalahannya sendiri. Ia tidak setia dan tidak taat kepada perintah dan panggilan Allah. Ia menyadari dan menerima apa yang dialaminya karena itu adalah kesalahannya sendiri. Oleh karena itu, dalam masa kesusahannya, ia berseru kepada Tuhan dari dalam perut ikan. Akan tetapi, dalam kesusahannya dan penderitaannya, Yunus tetap mengucap syukur.  

Sebagaimana yang telah ditulis oleh Rasul Paulus di dalam I Tesalonika 5:18: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Yesus Kristus bagi kamu.” Rasul Paulus menulis kepada Jemaat di Tesalonika supaya mereka bersyukur dalam segala hal. Kehendak Allah bagi manusia adalah supaya manusia bersyukur dalam segala hal. Rasul Paulus ingin agar jemaat di Tesalonika ini bersyukur dalam segala hal. Karena dengan mengucap syukur dalam segala hal, mereka melakukan kehendak Allah.

Bukan hal yang mudah untuk tetap mengucap syukur di tengah keadaan dan kenyataan yang sulit. Hal yang perlu kita contoh dari Yunus adalah ia tetap mengucap syukur walaupun berada dalam situasi yang sulit. Bagaimana kita membayangkan keadaan di dalam perut ikan? Jikalau kita membayangkan keadaan di dalam perut ikan, hal yang kita temui adalah bau anyir di dalam perut ikan, keadaan perut ikan yang pengap membuatnya sulit bernafas, keadaan perut ikan yang gelap tidak bisa melihat apa-apa. Mungkin Yunus pada saat itu mengalami ketakutan yang luar biasa berada di dalam perut ikan. Akan tetapi, ditengah semua yang dia alami di dalam perut ikan itu, dia berdoa dan bersyukur kepada Allah dalam kesulitannya/kesusahannya. Seburuk atau sesulit apapun kehidupan kita sebagai anak Tuhan, Tuhan telah mengaruniakan apa yang baik dalam kehidupan kita, baik itu kesehatan, keluarga, dan lain-lain. Firman Allah mengajarkan kita untuk fokus kepada hal-hal yang baik yang telah kita terima dari Allah. Firman Allah juga mengajarkan kita untuk mengucap syukur dalam segala keadaan. Yunus mengucap syukur kepada Allah atas apa yang ia alami. Dia tidak protes dan tidak komplain kepada Allah atas apa yang dialaminya.

 
2.     Yunus mengucap syukur dengan iman

Dengan iman Yunus mengucap syukur kepada Allah, bahwa keselamatan adalah dari Allah (ayat 9). Di dalam doa ucapan syukurnya, Yunus mengatakan bahwa ia akan membayar nazarnya dan dia meyakini bahwa Allah adalah pertolongannya. Dia masih percaya bahwa Allah sanggup untuk menyelamatkannya jikalau Allah berkehendak untuk melakukannya. Inilah "iman" yang masih dimiliki Yunus walaupun dia menghadapi keadaan dan kenyataan yang sulit.  

Sebagaimana yang telah ditulis oleh Rasul Paulus dalam Roma 8:28 : “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Dalam hal Yunus, Allah mengijinkan dia ditelan oleh ikan yang besar untuk menyadarkannya dari apa yang telah dilakukannya, yaitu menolak dan menjauh dari panggilan Allah di dalam kehidupannya. Begitu juga dengan anak-anak Tuhan, Allah dapat mengijinkan sesuatu terjadi di dalam kehidupan anak-anaknya untuk mendatangkan kebaikan bagi kehidupan anak-anakNya. Allah dapat mengijinkan persoalan, kesulitan, kesusahan maupun hal-hal lain terjadi di dalam kehidupan anak-anakNya untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anakNya, untuk membentuk anak-anakNya semakin serupa denganNya dan untuk membentuk karakter dari anak-anakNya. Walaupun kita mengalami banyak penderitaan, pencobaan, kita percaya bahwa Allah sanggup mengubah semuanya itu menjadi indah pada waktunya.

Berbicara mengenai ucapan syukur, ada beberapa ciri-ciri yang menjadi kelebihan dari orang yang suka mengucap syukur, yaitu:

1.) Tetap memuji Tuhan dan berterima kasih kepada Tuhan baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka. Tidak hanya dalam saat suka orang dapat bersyukur kepada Tuhan, melainkan juga saat duka orang dapat mengucap syukur kepada Allah, karena ucapan syukur adalah sikap hati yang menerima segala kedaulatan Allah yang kemudian tercermin dalam perkataan dan sikap hidup yang memuliakan Allah

2.) Tidak menuduh orang lain atau melempar kesalahan kepada orang lain atas kegagalan, penderitaan atau kesusahan yang dialaminya.

3.) Mau menerima semua keadaan walaupun hal itu tidak sesuai dengan keinginan kita, tidak sesuai dengan harapan kita maupun di luar dugaan kita.

Dari ciri-ciri tersebut, kita bisa melihat bahwa orang yang mau mengucap syukur adalah tanda dari pribadi yang kuat, karena dia bisa menerima segala hal baik yang sesuai dengan harapannya maupun yang tidak sesuai dengan harapannya.

Ada seorang pendeta mengatakan bahwa ucapan syukur adalah "ekspresi iman tertinggi" dari seseorang. Mengucap syukur berarti menerima sepenuhnya apa yang terjadi dalam kehidupan kita, meskipun hal itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Orang yang mengucap syukur adalah orang yang meluaskan Allah dan kuasaNya bekerja di dalam kehidupannya . Sebaliknya, mengeluh atau menggerutu merupakan sikap tidak menyukai atau bahkan menolak apa yang terjadi di dalam kehidupannya. Orang yang mengeluh adalah orang yang menghalangi atau bahkan menolak Allah dan kuasaNya bekerja di dalam kehidupannya  melalui setiap peristiwa yang terjadi di dalam kehidupannya.

Kisah Yunus ini mengajarkan kita untuk tetap mengucap syukur ketika sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita terjadi di dalam kehidupan kita. Sebagai murid Kristus, kita mengimani bahwa Allah turut bekerja di dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia. Allah juga menuntut kita untuk taat kepadaNya dalam segala hal.
Amin.







        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar