Selasa, 15 Februari 2011

Menyeberangi Sungai Yordan





Yosua 3:14 - 4:7



Sebelum Yosua memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, Musa adalah orang pertama yang dipanggil oleh Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Mereka melewati Laut Teberau dan padang gurun. Setelah sampai di dataran Moab, Musa tidak diperkenankan oleh Allah untuk memasuki tanah Kanaan dan menyeberangi Sungai Yordan. Allah memerintahkan Musa naik ke puncak Pisga. Ia hanya dapat melihat tanah Kanaan dari atas puncak gunung dan ia meninggal di sana.

Setelah Musa meninggal, Allah memerintahkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan. Dan Kitab Yosua ini, menceritakan tentang kisah bangsa Israel ketika mereka merebut negeri Kanaan di bawah pimpinan Yosua. Dialah yang menggantikan Musa memimpin umat Israel. Peristiwa-peristiwa penting yang dikisahkan di dalam kitab ini adalah penyeberangan Sungai Yordan, Jatuhnya Yerikho, pertempuran di Ai dan pengukuhan kembali perjanjian antara Allah dengan umat-Nya.

Dari pembacaan di atas, kita mengetahui bahwa bangsa Israel hendak menyeberangi Sungai Yordan. Allah sebelumnya telah memerintahkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan menggantikan Musa. Allah memerintahkan supaya imam-imam pengangkut tabut berjalan di depan rombongan Israel.

Yosua pun memerintahkan supaya imam pengangkat tabut perjanjian berjalan terlebih dahulu untuk menyeberangi Sungai Yordan. Pada saat imam pengangkat tabut melangkahkan kaki pada tepi sungai Yordan, sungai itu terputus sehingga kelihatan bagian yang kering. Bangsa Israel pun menyeberangi sungai Yordan itu. Pada saat bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut tetap berdiri di tengah dasar sungai Yordan sampai seluruh rombongan bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan. Dalam penyeberangan itu, seperti yang telah diperintahkan oleh Allah, Yosua memilih seorang dari tiap-tiap 12 suku Israel untuk mengambil batu di dasar sungai Yordan, kemudian membawanya ke tepi di dekat mereka akan bermalam. Hal ini supaya 12 batu yang diangkat itu boleh menjadi tanda dari mujizat yang telah Allah lakukan, yakni membelah sungai Yordan. Batu-batu ini akan menjadi tanda, saksi dan peringatan bagi anak-anak mereka, bahwa Allah telah membuat mujizat.

Dari kisah tersebut, ada tiga hal yang menarik untuk kita bahas.

Pertama, Yosua memerintahkan para imam pengangkat tabut untuk berjalan di depan rombongan orang Israel menyeberangi sungai Yordan. Sebagai manusia, secara psikologis, para imam pengangkat tabut tentu memiliki perasaan takut. Akan tetapi, pada saat imam pengangkat tabut melangkahkan langkah pertama mereka di tepi sungai Yordan, sungai itu langsung berhenti mengalir. Ketika para imam taat kepada perintah Yosua walaupun itu mengandung resiko dan tidak masuk akal, Allah menyatakan mujizat-Nya: Air sungai Yordan berhenti mengalir; Aliran sungai Yordan pun terputus. Pada saat Allah menyatakan mujizat-Nya, hukum alam tidak berfungsi. Air tidak mengalir. 

Kedua, pada saat bangsa Israel melewati sungai Yordan, imam pengangkut tabut tetap berada di tengah sungai Yordan dan Yosua memerintahkan masing-masing satu orang dari 12 suku orang Israel untuk mengambil batu di tengah dasar sungai Yordan dan membawanya ke tepi di mana mereka akan bermalam.
Kita dapat berimajinasi bagaimana keadaan bangsa Israel pada saat menyeberangi sungai Yordan. Jumlah orang Israel yang keluar dari tanah Mesir menurut para ahli kurang lebih 3 juta orang. Memang ada yang meninggal pada saat perjalanan di padang gurun, tetapi ada juga anak cucu mereka yang dilahirkan dalam perjalanan. Kemungkinan jumlah orang Israel yang melewati sungai Yordan ini juga tidak sedikit jumlahnya. Tentu mereka sangat sibuk dan sangat repot. Mereka harus menyeberangkan isteri mereka, anak mereka, barang-barang mereka, hewan ternak mereka, tenda-tenda mereka, dan lain-lain. Apalagi mereka menyeberang sungai Yordan secara bersama-sama atau bergerombolan, ini yang membuat lebih repot lagi, mereka mungkin berdesak-desakan. Akan tetapi, di tengah-tengah kesibukan mereka, mereka tetap bersedia untuk mengambil dan membawa batu dari dasar sungai Yordan ke tepi.

Ketiga, ke-12 batu yang dibawa ke tepi akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel dan anak-anak mereka. Apabila anak-anak mereka bertanya tentang batu-batu itu, hal itu akan menjadi tanda peringatan bahwa Allah telah membuat aliran sungai Yordan terputus pada waktu mereka menyeberanginya.

Ada pepatah mengatakan : “orang yang bijak adalah orang yang dapat belajar dari pengalamannya sendiri, dan orang yang lebih bijak lagi adalah orang yang dapat belajar dari pengalaman orang lain.” Kisah tersebut merupakan pengalaman dari bangsa Israel. Lalu apakah yang dapat kita pelajari dari pengalaman bangsa Israel ini:

1.)      Ketaatan Pada Otoritas.
Para imam pengangkat tabut taat kepada perintah Yosua, orang yang Allah pilih untuk menggantikan posisi Musa. Mereka taat untuk berjalan di depan rombongan orang Israel untuk menyeberangi Sungai Yordan. Para imam pun melangkah dengan iman menyeberangi sungai Yordan dan apa yang terjadi? Terjadi mujizat dari Allah. Ketaatan mereka didasarkan oleh iman mereka kepada Allah. Allah yang sudah menyatakan kuasa-Nya melalui 10 tulah di Mesir. Allah yang sudah menolong mereka menyeberang Laut Teberau. Allah yang sudah memberi makan manna di padang gurun. Allah yang memimpin mereka dengan tiang awan di waktu siang dan dengan tiap api di waktu malam. Allah yang sudah memilih Musa adalah Allah yang juga memilih Yosua dan memberi otoritas kepada Yosua untuk memimpin bangsa Israel.

Bangsa Israel tunduk pada otoritas Yosua, yang memerintahkan untuk menyeberangi Sungai Yordan dengan para imam pengangkut tabut di depan rombongan orang Israel. Para imam tidak menganggap remeh Yosua dibandingkan dengan Musa yang telah dipakai untuk menyatakan mujizat demi mujizat dari Tuhan. Ketika orang Israel tunduk pada perintah dari Yosua, mujizat pun dinyatakan. Allah membuat aliran air Sungai Yordan berhenti mengalir sehingga orang Israel bisa menyeberang. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa penundukan pada otoritas yang Allah percayakan atas kita, siapapun itu, akan membawa kepada berkat dan mujizat dari Tuhan. Musa dan Yosua hanyalah alat Tuhan, yang empunya kuasa adalah Allah. Kuasa dan mujizat dari Allah dinyatakan ketika kita tunduk pada otoritas yang ada.   

2.)      Di Tengah Kesibukan Kita, Jangan Melupakan Apa Yang Allah Inginkan Untuk Kita Lakukan
Di tengah kesibukan orang Israel menyeberang sungai Yordan, Yosua memerintahkan satu orang dari tiap 12 suku untuk mengambil dan membawa batu dari dasar sungai Yordan ke tepi. Batu-batu itu akan menjadi tanda dan peringatan bagi bangsa Israel bahwa Allah telah telah melakukan mujizat dan menjadi peringatan bagi anak-anak mereka. Mereka tidak melupakan apa yang diperintahkan Allah ditengah kesibukan mereka menyeberangi sungai Yordan. 

Setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Seorang pelajar sibuk untuk belajar. Seorang dokter sibuk melayani pasien. Seorang petani sibuk bekerja di ladang/sawah. Seorang pendeta sibuk melayani jemaat-jemaat. Akan tetapi, di tengah kesibukan kita masing-masing, jangan melupakan apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Apapun profesi kita, ditengah kesibukan kita jangan lupa untuk bersaat teduh secara pribadi dengan Tuhan; jangan lupa beribadah kepada Tuhan; jangan lupa untuk membagi waktu dengan keluarga; jangan lupa untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan. Sebagai orang percaya, jangan hanya fokus dengan target, kepentingan, atau keinginan diri sendiri, melainkan tetap melakukan perintah dan kehendak Allah di tengah kesibukan kita.   

3.)      Jangan melupakan Allah setelah kita mengalami mujizat-Nya
Batu-batu yang diangkat dari dasar sungai Yordan akan menjadi bukti bagi orang Israel  bahwa mereka pernah menyeberangi Sungai Yordan dengan mujizat dari Allah. Dengan melihat batu-batu itu kembali, orang Israel akan diingatkan untuk tidak melupakan Allah-Nya dan perbuatan-Nya yang ajaib.. Allah tidak mau kita melupakan Dia dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Dengan mengingat pengalaman mujizat-mujizat yang telah kita alami bersama Allah  di masa lalu, akan membangkitkan kekuatan iman kita bahwa Allah yang sama sanggup melakukan mujizat yang kita perlukan di masa depan. 

Selain itu juga, batu-batu yang mereka bawa ke tepi Sungai Yordan akan menjadi tanda dan kesaksian bagi anak-anak mereka. Ketika anak-anak mereka bertanya tentang batu-batu itu, mereka dapat menceritakan mujizat yang telah mereka alami. Ada tanggung jawab dibalik mujizat yang telah mereka alami. Orang tua (suami dan istri) harus menceritakan hal tersebut kepada anak-anak mereka. Allah ingin pekerjaan-Nya diketahui oleh anak-anak. Allah ingin diri-Nya dikenal oleh anak-anak. Allah tidak ingin dilupakan oleh anak-anak. Begitu juga dengan kita, hendaklah kita memperkenalkan Allah kepada anak-anak kita. Jangan sampai anak-anak kita tidak mengenal dan melupakan Allah nenek moyangnya, yaitu Allah yang mengadakan mujizat; Allah yang menyelamatkan. Allah mau menyelamatkan anak-anak kita, keluarga kita.   







Tidak ada komentar:

Posting Komentar