Selasa, 17 Januari 2017

Rahasia Ketabahan Hati





2 Korintus 4:16-18

16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Sebagai seorang rasul yang dipanggil oleh Allah, Rasul Paulus mengalami banyak kesulitan, tantangan, penderitaan dalam memberitakan Injil Allah kepada bangsa-bangsa lain. Akan tetapi, ia meyakini bahwa Allah yang sudah memanggil dia dan memberikan kepercayaan itu akan tetap menyertai dan membela dalam perjalanan misinya. Dalam Surat 2 Korintus ini, Rasul Paulus membeberkan kesulitan, penderitaan yang dia alami dalam perjalanan misinya. 3 kali mengalami karam kapal, terkatung-katung ditengah laut, tetapi Allah tetap menolong (2 Korintus 11:25). 5 kali disesah orang Yahudi, setiap kali disesah empat puluh kurang satu pukulan (2 Korintus 11:24). 1 kali dirajam dengan batu kemudian diseret ke luar kota karena orang-orang menyangka dia telah mati (2 Koritus 11:25). Ia mengalami apa yang namanya kelaparan, kedinginan, kurang tidur, bekerja berat (2 Korintus 11:27).

Selain itu juga, Rasul Paulus mengalami tantangan dari dalam jemaat. Ada orang-orang yang mempertanyakan status, kewibawaan kerasulan dari Paulus (2 korintus 12:11-18). Hal lain yang menyebabkan jemaat Korintus mengkritik Paulus adalah keputusannya untuk tidak bergantung secara finansial kepada mereka (2 Korintus 11:7-9). Akan tetapi, semuanya itu tidak membuat Rasul Paulus tawar hati.   

Rasul Paulus melakukan semuanya itu karena Injil. Dia tidak menjadi tawar hati. Dalam Alkitab versi King James Version, digunakan kata faint not untuk kata tidak tawar hati. Dalam Alkitab versi New English Translation, digunakan kata not despair untuk kata tidak tawar hati. Rasul Paulus tidak menjadi lemah dan tidak menjadi putus asa dalam menghadapi semuanya itu.

Apakah yang menjadi rahasia Rasul Paulus  tetap tidak tawar hati:

1.) Memiliki Pilihan yang Tepat (2 Korintus 4:16)

Secara alami, manusia lahiriah atau tubuh jasmani akan menjadi lemah dan mengalami penurunan sejalan dengan berjalannya waktu. Ini merupakan hukum alam yang tidak dapat ditentang, setiap manusia akan menjadi tua dan mengalami penurunan fisik. Akan tetapi, Rasul Paulus mengambil suatu pilihan yang tepat yaitu walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot, manusia batiniahnya semakin diperbaharui dan diperkuat.

Ada dua pilihan bagi manusia yaitu apakah manusia batiniahnya semakin diperbaharui atau semakin menurun seiring dengan menurunnya manusia lahiriah yang diterpa usia. Jikalau seseorang tetap melekat pada Tuhan, tetap mengandalkan Tuhan, tetap setia kepada Tuhan, manusia batiniahnya semakin diperbaharui walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot karena usia. Sebaliknya, jikalau seseorang semakin jauh dari Tuhan, mengandalkan diri sendiri (kepandaian, kekayaan, jabatan, penampilan dll.), meninggalkan Tuhan, manusia batiniahnya semakin menurun ketika manusia lahiriahnya semakin menurun juga karena usia.

Rasul Paulus tidak menjadi tawar hati. Ia tidak menjadi lemah dan berputus asa ditengah kesulitan dan penderitaan yang dia alami dalam menjalankan panggilannya. Ia mengetahui bahwa di dalam Tuhan, bersama dengan Tuhan, manusia batiniahnya semakin diperbaharui walaupun manusia lahiriahnya semakin menurun karena usia. Nabi Yesaya berkata bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu; mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40:31). Dipandang dari sisi rohani, kehidupan merupakan gerak mendaki bukit menuju ke hadirat Allah. Manusia tidak perlu takut terhadap tahun-tahun yang akan datang, karena tahun-tahun itu akan membawanya makin dekat, tidak kepada kematian tetapi kepada Allah.

2.) Memiliki Pengharapan (2 Korintus 4:17)

Rasul Paulus memiliki pengharapan bahwa penderitaan yang dialaminya turut mengerjakan kemuliaan kekal nanti. Paulus meyakini bahwa penderitaan dan kesulitan yang dia alami tidaklah sia-sia. Dia meyakini bahwa Allah turut bekerja melalui kesulitan dan penderitaan yang dia alami untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Dia juga meyakini bahwa penderitaan sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan nanti (Roma 8:18).

Mengapa Rasul Paulus tidak menghindar dari penderitaan yang dia alami? Karena dia mengetahui bahwa sebagai murid Kristus, kita tidak hanya dikaruniakan untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (Filipi 1:29). Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, Dia datang ke dalam dunia ini untuk mengambil bagian dalam penderitaan. Di dalam penderitaanNya itu, Dia mengerjakan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Di dalam Kristus, penderitaan itu adalah panggilan dan karunia (1 Petrus 2:21; Filipi 1:29).   

Ada sebuah perumpamaan tentang dua orang pengusaha yang akan melakukan perjalanan bersama untuk mengadakan bisnis di seberang lautan. Mereka menyewa kapal laut untuk menyeberangi lautan menuju ke sebuah pulau. Akan tetapi, dalam perjalanan di tengah laut, datanglah badai, ombak dan angin kencang menerpa kapal itu sehingga kapal itu hancur menjadi puing-puing di tengah laut. Untuk menyelamatkan diri mereka, kedua orang tersebut berusaha untuk memegang pada puing-puing kayu yang mengapung. Pengusaha yang pertama tetap memiliki pengharapan bahwa pasti akan ada orang yang akan menyelamatkan mereka, apakah itu akan ada perahu lain yang lewat atau pesawat terbang yang akan lewat atau pun kuasa Tuhan sendiri yang akan menyelamatkan mereka. Pengusaha yang kedua tidak mempunyai pengharapan lagi. Dia berpikir di tengah laut jarang kapal atau perahu yang akan lewat. Dia berpikir bahwa tidak mungkin untuk mencapai daratan dengan keadaan seperti itu. Baginya, lebih baik mati saja dari pada menderita lebih lama terapung di atas laut. Setelah tiga hari berlalu dari peristiwa tersebut, apa yang terjadi dengan kedua pengusaha itu? Pengusaha yang pertama tetap memegang dan memeluk puing kayu walaupun tubuhnya sudah mulai lemah. Sedangkan pengusaha yang kedua telah melepaskan pegangannya dari kayu sehingga dia mati tenggelam. Dari cerita perumpamaan ini, kita bisa menarik pelajaran bahwa pengharapan membuat seseorang lebih tangguh. Pengharapan membuat seseorang tidak mudah menyerah. Begitu juga dengan Rasul Paulus, pengharapan yang benar terhadap penderitaan yang turut mengerjakan kemuliaan kekal itulah yang  yang membuat Rasul Paulus tidak tawar hati dalam menghadapi penderitaan bahkan ketika maut mengancam.  

3.) Memiliki Perspektif Kekekalan (2 Korintus 4:18)

Rasul Paulus tidak memfokuskan pandangannya pada apa yang kelihatan, melainkan pada apa yang tidak kelihatan. Menurut Paulus, apa yang kelihatan adalah sementara sedangkan apa yang tidak kelihatan adalah kekal. Oleh karena itu, dia tidak memfokuskan pandangannya pada perkara yang duniawi, melainkan memfokuskan pandangannya pada perkara sorgawi.

Perspektif kekekalan itulah yang dimiliki oleh Rasul Paulus. Segala sesuatu yang dia lakukan termasuk panggilannya sebagai seorang rasul, dilakukannya dengan perspektif kekekalan. Dia melakukan semuanya itu karena dia melihat jauh kepada kekekalan. Dia tidak mengejar upah duniawi, tetapi dia mengejar upah sorgawi. Begitu juga dengan Musa, pemimpin yang membawa keluar bangsa Israel dari Mesir. Musa lebih memilih menderita bersama orang Israel dari pada hidup senang bersama putri Firaun karena pandangannya ia tujukan pada perkara yang tidak kelihatan (Ibrani 11:24-27). Ia tidak memandang kepada perkara yang kelihatan yaitu putri Firaun yang cantik dan kaya. Akan tetapi, ia mengarahkan pandangannya pada apa yang tidak kelihatan, upah sorgawi. Perspektif kekekalan itulah yang memotivasi Rasul Paulus untuk tetap maju dan tidak mudah menyerah dalam menjalankan panggilannya.

Setiap murid Kristus memiliki panggilan masing-masing yang harus dikerjakan dengan tanggung jawab. Akan tetapi, dalam menjalankan panggilan itu seringkali kita harus menghadapi apa yang disebut kesulitan, penderitaan, tantangan. Sebagaimana Rasul Paulus tidak tawar hati dalam menghadapi semuanya itu, kita boleh diingatkan supaya tidak tawar hati dalam menjalankan panggilan yang Allah percayakan kepada kita masing-masing. Kiranya Allah Roh Kudus menguatkan dan memampukan kita.
Amin…