Jumat, 03 Juni 2016

Syarat Utama Murid Yesus




Lukas 9:23

Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.



Untuk setiap profesi ada syarat yang harus dipenuhi. Untuk menjadi seorang pilot, wanita harus memiliki tinggi minimal 165cm dan laki-laki minimal 170cm. Untuk menjadi seorang perawat, harus mengikuti pendidikan keperawatan. Untuk menjadi seorang penyanyi, harus memiliki suara yang bagus, memiliki ciri khas tertentu dan tahu teknik vokal yang baik. Untuk studi lanjut ke perguruan tinggi atau kuliah, seseorang harus mengikuti pendidikan wajib 12 tahun. Syarat yang diperlukan tersebut mendukung seseorang untuk menjadi profesional di bidangnya.           

Begitu juga untuk menjadi murid Yesus ada syarat yang harus dipenuhi. Yesus sendiri berkata bahwa untuk mengikut Dia, seseorang harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia. Untuk menjadi murid yang baik, minimal seseorang harus memenuhi 3 hal tersebut. Sebagai orang Kristen, kita memiliki beberapa status, baik itu sebagai anak, hamba, murid, sahabat, kekasih Allah. Sebagai murid, kita harus mengikuti apa yang diajarkan oleh guru kita. Sebagai murid, kita memperhatikan apa yang guru kita ajarkan dan melakukannya. Sebagai murid, belajar sesuatu yang baru dari guru kita. Hidup ini adalah proses pembelajaran tanpa henti sampai akhir hidup kita. Selama kita hidup, kita belajar dan belajar. Setiap hari, setiap saat kita belajar dari Kristus sampai akhirnya kita menjadi semakin serupa dengan Kristus, Guru kita.

Untuk menjadi seorang murid Yesus yang baik, seseorang harus memenuhi 3 Kriteria yang diucapkan Yesus, yaitu:

1.)    Menyangkal diri
 
Di dalam KBBI, kata “sangkal” berarti membantah, tidak membenarkan dan kata “menyangkal” berarti mengingkari, membantah, menolak. Jadi, secara tidak langsung frase “menyangkal diri” dapat diartikan mengingkari, membantah atau menolak diri sendiri. Jikalau kita melihat dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), digunakan kata “melupakan kepentingannya sendiri”. Menyangkal diri dalam hal ini mengacu pada tindakan mengingkari atau menolak sesuatu yang berhubungan dengan diri sendiri (kepentingan, hak, keinginan, dll.) 

Untuk menyangkal diri, seseorang harus mengenyampingkan kepentingan, keinginan, hak dirinya sendiri. Dengan kata lain, orang yang menyangkal diri adalah orang yang dapat menempatkan kehendak atau keinginan dirinya di bawah kehendak dan keinginan Tuhan. Inilah yang Yesus teladankan kepada kita. Sebagai contoh, ketika Yesus sedang menghadapi kesusahan yang mendalam karena salib sudah di depan mata, Yesus bergumul di dalam doa di taman Getsemani. Di dalam doaNya itu, Yesus meminta agar sekiranya cawan itu dilalukan dari padaNya (Matius 26:39). Akan tetapi, di akhir doaNya Yesus mengembalikan semuanya kepada Bapa yaitu biarlah kehendak Bapa saja yang terjadi. Dalam hal ini, Yesus menempatkan kehendak diri sendiri di bawah kehendak Bapa. Yesus menaklukan kehendak diri sendiri kepada kehendak Bapa. Inilah yang menjadi makanan Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaanNya (Yohanes 4:32).

2.)    Memikul Salib
 
Memikul salib adalah suatu konotasi. Tidak berarti ketika seseorang memikul salib, dia harus membuat salib dari balok kayu dan memikulnya sejauh beberapa kilometer. Memikul salib mengacu kepada tindakan memikul atau menanggung penderitaan, pergumulan, beban, kesukaran karena melakukan kehendak Allah. Kristus mengalami penderitaan, kesakitan, penghinaan, ketika Dia menanggung hukuman salib yang merupakan hukuman bagi pelanggaran berat di dalam komunitas orang Yahudi.

Memikul salib bukanlah suatu hal yang asing karena setiap murid Kristus dipanggil untuk mengambil bagian dalam hal ini. Setiap murid Kristus dipanggil untuk mengambil bagian dalam hal ini sebagaimana Kristus datang ke dalam dunia untuk mengambil bagian di dalam penderitaan (1 Petrus 2:21). Yesus Kristus tidak menolak dan menghindar dari penderitaan yang harus Dia alami. Dalam pandangan Kristus, penderitaan sebagai muridNya bukanlah suatu kenistaan atau aib tetapi merupakan suatu kemuliaan (Matius 5:11-12).

3.)    Mengikuti Yesus
 
Dalam KBBI, kata “mengikut” berarti mengiring, meniru, menurut. Jadi, mengikut Yesus dapat diartikan mengiring Yesus, meniru Yesus, dan menurut pada Yesus. Pertama, mengikut Yesus berarti mengiring Yesus. Ketika kita mengiring Yesus, Dia berada di depan dan kita berada di belakang. Pada saat kita berada di belakang, yang menjadi fokus atau pusat perhatian kita adalah Yesus. Dengan mengiring Yesus, Yesus menjadi fokus dan pusat perhatian dari hidup kita. Kedua, mengikut Yesus juga berarti meniru Yesus. Ketika kita meniru Yesus, kita berusaha menjadi semakin serupa dengan Dia. Kita meninggalkan gaya hidup kita yang lama dan mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus. Gaya hidup (life style) Tuhan Yesus adalah gaya hidup menghamba (lihat http://yeftamamuaya.blogspot.co.id/2011/02/gaya-hidup-menghamba.html). Ketiga, mengikut Yesus juga berarti menurut pada Yesus. Ketika kita menurut pada Yesus, kita berusaha taat dan tunduk kepada perintah dan ajaran Yesus.    
 
Dari tiga syarat utama yang diucapkan Yesus di atas, kita bisa melihat bahwa Kristus memiliki konsep tersendiri tentang murid. Konsep Kristus tentang murid dapat kita simpulkan sebagai berikut:
 
●    Murid adalah orang yang menaklukan keinginan atau kehendaknya dibawah keinginan dan kehendak gurunya (menyangkal diri)
●    Murid adalah orang yang rela menderita atau menanggung resiko sebagai konsekuensi dari ajaran gurunya (memikul salib)
●   Murid adalah orang yang menjadikan gurunya sebagai fokus utama; orang yang berusaha menjadi semakin serupa dengan gurunya; orang yang mau tunduk dan taat kepada perintah dan ajaran gurunya (mengikut Yesus)    

Selamat menjadi murid Yesus yang baik…