Minggu, 05 Februari 2017

Daud : Allah yang Mengangkat




Mazmur 78:70

                Dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba;

               
Pemazmur menulis bahwa Allah yang memilih Daud, hamba-Nya. Allah yang mengambil dia dari antara kandang-kandang kambing domba. Allah sanggup mengangkat seseorang dari sesuatu yang bukan apa-apa menjadi sesuatu yang ada apa-apanya. Jikalau kita melihat kembali bagaimana proses pemilihan Daud ketika Allah mengutus Nabi Samuel untuk mengurapinya menjadi raja Israel, sepertinya Daud tidak memenuhi syarat di mata Samuel. Ketika Samuel datang ke rumah Isai, ayah Daud, Samuel sempat tertipu oleh penampilan dari kakak Daud, Eliab, yang memiliki paras dan perawakan yang tinggi (1 Samuel 16:7). Samuel mengira bahwa Eliab, kakak Daud, yang merupakan orang yang diurapi oleh Allah. Manusia seringkali hanya melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Allah melihat hati. Allah menyuruh Samuel untuk mengurapi Daud yang masih kemerah-merahan sebagai raja Israel dan bukan kakak-kakaknya. Daud saat itu hanyalah seorang yang disuruh oleh ayahnya untuk membantu menggembalakan kambing domba.

Allah memilih dan mengangkat Daud dari seorang gembala kambing domba menjadi seorang Raja Israel. Seseorang yang tidak terpandang di dalam keluarga bahkan oleh orang lain, akhirnya diangkat oleh Allah menjadi seorang Raja Israel. Inilah yang dikerjakan oleh Allah. Allah kita adalah Allah yang ahli mengangkat seseorang, siapapun yang Ia kehendaki.

Allah tidak sembarangan dalam memilih, merekrut dan mengangkat seseorang. Allah tahu siapa yang Dia suruh supaya Samuel mengurapinya sebagai raja. Ada alasan mengapa Allah memilih dan mengangkat Daud sebagai Raja Israel. Apakah yang menjadi rahasia mengapa Allah memilih, mengangkat dan memakai Daud sebagai Raja Israel? 

1.     Membagun Relasi dengan Allah; Menjaga Komitmen Hidup dengan Allah

Dalam kitab Mazmur 119:164 tertulis : Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil. Di dalam 24 jam, Daud memuji Tuhan 7 kali. Dari ayat ini, didapat pengertian bahwa Daud memberi prioritas bagi relasinya dengan Allah.  Daud mengambil komitmen untuk membangun relasi dengan Allah. Tiada hari tanpa memuji Tuhan. Tidak ada hari tanpa berelasi dengan Allah.

Tuhan Yesus telah memberi contoh dan teladan bagaimana Dia berelasi dengan Bapa di Sorga. Kehidupan Tuhan Yesus tidak terlepas dari doa. Ketika hari masih pagi-pagi buta, Dia berdoa (Markus 1:35). Ketika selesai melayani orang-orang di malam hari, Dia berdoa (Matius 14:23). Ketika berada dalam kegiatan pelayanan sehari-hari, disela-sela kesibukan, Dia mengambil waktu untuk menyendiri untuk berdoa (Lukas 9:18). Ketika Dia diperhadapkan dengan salib yang sudah berada di depan mata, Dia berdoa di taman Getsemani di tengah-tengah ketakutan (Matius 26:39). Lalu bagaimana dengan kita? Berapa kali kita berdoa kepada Allah kita dalam satu hari? Adakah kita membangun relasi dengan Allah setiap hari? Adakah kita berkomitmen untuk mengambil waktu setiap hari dengan Allah di tengah kesibukan sehari-hari?

Merupakan suatu hal yang biasa ketika seseorang masih biasa-biasa saja setia kepada Tuhan. Akan tetapi, merupakan suatu hal yang luar biasa jikalau seseorang tetap setia setelah diberkati oleh Tuhan. Keberadaan Daud yang diberkati dengan kekayaan, kehormatan, jabatan sebagai Raja Israel tidak membuat dia melupakan Tuhan atau meninggalkan kesetiaannya kepada Tuhan. Hal itu tidak membuat Daud menjadi sombong dan lupa diri.  Setelah diangkat menjadi raja pun, dia tetapi membangun komitmen untuk berelasi dengan Allah setiap hari (Mazmur 119:164). Kekayaan, kehormatan dan jabatan sebagai raja tidak membuat Daud kendor dari kesetiaannya kepada Tuhan, komitmennya kepada Tuhan. Bagaimana dengan kita? Adakah kita tidak kendor dalam pengiringan kita kepada Tuhan setelah Tuhan memberkati kita dan semakin memberkati kita? Adakah kita kita tetap setia kepada Tuhan setelah Tuhan memberkati kita dan bahkan ketika semakin diberkati? Adakah kita tetap berkomitmen menjaga relasi kita dengan Tuhan setiap hari setelah Tuhan memberkati kita bahkan ketika semakin diberkati?

2.     Selalu Bertanya kepada Allah

Dalam kitab 2 Samuel 5:19-23, kita bisa melihat di sana bahwa sebelum Daud melakukan peperangan dengan bangsa lain dia bertanya dahulu kepada Tuhan. Ketika Allah menjawab Daud untuk maju, dia pun maju untuk berperang. Ketika Tuhan menjawab Daud untuk tidak maju, dia pun tidak maju. Di sini kita bisa melihat bagaimana tindakan dari Daud. Sebelum melakukan sesuatu, Daud bertanya dahulu kepada Allah. Sebelum mengambil keputusan atau membuat pilihan, Daud bertanya kepada Allah yang Maha Tahu (omniscience).

Kehidupan orang Kristen juga dipenuhi dengan pilihan-pilihan. Pilihan untuk mengasihi atau membenci. Pilihan untuk taat atau memberontak. Pilihan untuk mengampuni atau membalas. Pilihan untuk berkenan pada Allah atau berkenan pada manusia. Pilihan untuk beribadah atau pesta pora. Pilihan untuk sangkal diri atau mengumbar nafsu. Pilihan untuk pikul salib atau melepaskan salib. Pilihan untuk melakukan kehendak Allah atau keinginan diri sendiri. Pilihan untuk masuk surga atau neraka.

Sebelum mengambil keputusan atau membuat pilihan, bertanya dahulu kepada Allah. Apakah itu sesuai kehendak Allah, Firman Allah atau tidak? Tuntunan Firman Allah, Doa dan pimpinan Roh Kudus akan membawa kita pada keputusan dan pilihan yang tepat dan benar. Adakalanya keputusan atau pilihan itu berat dan bertentangan dengan keinginan kita, akan tetapi keputusan dan pilihan yang sesuai dengan kehendak Allah dan rencana Allah itu pasti yang terbaik dan mendatangkan damai sejahtera (Yeremia 29:11). Biarlah kita belajar dari Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus yang menyerahkan pilihan-Nya dan keputusan-Nya kepada Allah Bapa ketika Dia berdoa di Getsemani ketika akan menghadapi salib (Matius 26:39). Itulah keputusan dan pilihan yang tepat dan benar: pilihan dan keputusan yang menggenapi rencana/rancangan Allah dalam kehidupan-Nya, karena untuk itulah visi dan misi kedatangan Yesus ke dalam dunia ini, yaitu menebus dosa manusia.

3.     Mendapat Kasih Karunia Allah

Daud dipilih, diangkat dan dipakai oleh Allah karena dia mendapat kasih karunia di mata Allah. Apakah rahasia seseorang sehingga dia mendapat kasih karunia Allah? Mari kita melihat dalam kitab Kejadian 6:8-9. Kejadian 6:8-9 mencatat : “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Inilah riwayat Nuh : Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” Itulah yang membuat Nuh mendapat kasih karunia di mata Allah, yaitu hidup bergaul dengan Allah. Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia di mata Allah sehingga mereka sekeluarga tidak dibinasakan oleh Allah dengan air bah. Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia berupa keselamatan dari pembinasaan oleh air bah. Begitu juga dengan Daud, dia mendapat kasih karunia dari Allah berupa pemilihan, pengangkatan dan pemakaian dari Allah sebagai Raja Israel.

Kasih karunia adalah pemberian dari Allah. Karena Allah adalah kasih, maka merupakan sifat Allah untuk memberi kepada yang dikasihi-Nya. Kasih karunia Allah bisa berupa keselamatan, perlindungan, kekayaan, kehormatan, hikmat atau kepandaian, dan lain-lain.

Alkitab mencatat tokoh-tokoh yang mendapat kasih karunia di mata Allah karena mereka memiliki pergaulan dengan Allah. Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia berupa keselamatan dari air bah. Henokh mendapatkan kasih karunia berupa pengangkatan oleh Allah karena dia bergaul dengan Allah. Daniel mendapatkan kasih karunia berupa kepandaian 10 kali lipat dari pada pejabat raja lainnya di Babilonia dan pengertian tentang mimpi. Maria mendapat kasih karunia untuk mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan bayi Yesus. Kasih karunia itu diberikan kepada mereka karena mereka memiliki pergaulan dengan Allah.

Pergaulan atau relasi dengan Allah akan membuat seseorang mendapat kasih karunia di mata Allah. Inilah juga yang dialami oleh Daud. Karena Daud memiliki pergaulan atau relasi dengan Allah, dia mendapatkan kasih karunia dari Allah berupa pemilihan, pengangkatan dan pemakaian dari Allah sebagai seorang Raja Israel yang diurapi.

Apakah Daud orang yang sempurna, tanpa dosa sehingga dia mendapat kasih karunia Allah? Tidak. Kita tahu dosa Daud, dia pernah menghampiri Isteri Uria, Batsyeba. Dengan kata lain, Daud berzinah dengan Batsyeba. Lalu mengapa Allah tetap memakai Daud sebagai raja Israel? Hal ini karena dia tetap memiliki pergaulan dengan Allah. Ketika Nabi Natan menegur Daud atas dosanya, dia sadar dan mengadakan pemberesan dengan Allah. Mazmur 51 mengungkapkan tentang pengakuan dosa Daud. Daud juga adalah orang berdosa, tetapi dia tetap mendapat kasih karunia Allah karena dia tetap memiliki pergaulan dengan Allah. Begitu juga dengan kita, orang berdosa yang telah ditebus oleh Yesus Kristus, kasih karunia Allah bisa menjadi bagian kita jikalau kita memiliki pergaulan dengan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar