Minggu, 05 Februari 2017

Daud : Allah yang Mengangkat




Mazmur 78:70

                Dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba;

               
Pemazmur menulis bahwa Allah yang memilih Daud, hamba-Nya. Allah yang mengambil dia dari antara kandang-kandang kambing domba. Allah sanggup mengangkat seseorang dari sesuatu yang bukan apa-apa menjadi sesuatu yang ada apa-apanya. Jikalau kita melihat kembali bagaimana proses pemilihan Daud ketika Allah mengutus Nabi Samuel untuk mengurapinya menjadi raja Israel, sepertinya Daud tidak memenuhi syarat di mata Samuel. Ketika Samuel datang ke rumah Isai, ayah Daud, Samuel sempat tertipu oleh penampilan dari kakak Daud, Eliab, yang memiliki paras dan perawakan yang tinggi (1 Samuel 16:7). Samuel mengira bahwa Eliab, kakak Daud, yang merupakan orang yang diurapi oleh Allah. Manusia seringkali hanya melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Allah melihat hati. Allah menyuruh Samuel untuk mengurapi Daud yang masih kemerah-merahan sebagai raja Israel dan bukan kakak-kakaknya. Daud saat itu hanyalah seorang yang disuruh oleh ayahnya untuk membantu menggembalakan kambing domba.

Allah memilih dan mengangkat Daud dari seorang gembala kambing domba menjadi seorang Raja Israel. Seseorang yang tidak terpandang di dalam keluarga bahkan oleh orang lain, akhirnya diangkat oleh Allah menjadi seorang Raja Israel. Inilah yang dikerjakan oleh Allah. Allah kita adalah Allah yang ahli mengangkat seseorang, siapapun yang Ia kehendaki.

Allah tidak sembarangan dalam memilih, merekrut dan mengangkat seseorang. Allah tahu siapa yang Dia suruh supaya Samuel mengurapinya sebagai raja. Ada alasan mengapa Allah memilih dan mengangkat Daud sebagai Raja Israel. Apakah yang menjadi rahasia mengapa Allah memilih, mengangkat dan memakai Daud sebagai Raja Israel? 

1.     Membagun Relasi dengan Allah; Menjaga Komitmen Hidup dengan Allah

Dalam kitab Mazmur 119:164 tertulis : Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil. Di dalam 24 jam, Daud memuji Tuhan 7 kali. Dari ayat ini, didapat pengertian bahwa Daud memberi prioritas bagi relasinya dengan Allah.  Daud mengambil komitmen untuk membangun relasi dengan Allah. Tiada hari tanpa memuji Tuhan. Tidak ada hari tanpa berelasi dengan Allah.

Tuhan Yesus telah memberi contoh dan teladan bagaimana Dia berelasi dengan Bapa di Sorga. Kehidupan Tuhan Yesus tidak terlepas dari doa. Ketika hari masih pagi-pagi buta, Dia berdoa (Markus 1:35). Ketika selesai melayani orang-orang di malam hari, Dia berdoa (Matius 14:23). Ketika berada dalam kegiatan pelayanan sehari-hari, disela-sela kesibukan, Dia mengambil waktu untuk menyendiri untuk berdoa (Lukas 9:18). Ketika Dia diperhadapkan dengan salib yang sudah berada di depan mata, Dia berdoa di taman Getsemani di tengah-tengah ketakutan (Matius 26:39). Lalu bagaimana dengan kita? Berapa kali kita berdoa kepada Allah kita dalam satu hari? Adakah kita membangun relasi dengan Allah setiap hari? Adakah kita berkomitmen untuk mengambil waktu setiap hari dengan Allah di tengah kesibukan sehari-hari?

Merupakan suatu hal yang biasa ketika seseorang masih biasa-biasa saja setia kepada Tuhan. Akan tetapi, merupakan suatu hal yang luar biasa jikalau seseorang tetap setia setelah diberkati oleh Tuhan. Keberadaan Daud yang diberkati dengan kekayaan, kehormatan, jabatan sebagai Raja Israel tidak membuat dia melupakan Tuhan atau meninggalkan kesetiaannya kepada Tuhan. Hal itu tidak membuat Daud menjadi sombong dan lupa diri.  Setelah diangkat menjadi raja pun, dia tetapi membangun komitmen untuk berelasi dengan Allah setiap hari (Mazmur 119:164). Kekayaan, kehormatan dan jabatan sebagai raja tidak membuat Daud kendor dari kesetiaannya kepada Tuhan, komitmennya kepada Tuhan. Bagaimana dengan kita? Adakah kita tidak kendor dalam pengiringan kita kepada Tuhan setelah Tuhan memberkati kita dan semakin memberkati kita? Adakah kita kita tetap setia kepada Tuhan setelah Tuhan memberkati kita dan bahkan ketika semakin diberkati? Adakah kita tetap berkomitmen menjaga relasi kita dengan Tuhan setiap hari setelah Tuhan memberkati kita bahkan ketika semakin diberkati?

2.     Selalu Bertanya kepada Allah

Dalam kitab 2 Samuel 5:19-23, kita bisa melihat di sana bahwa sebelum Daud melakukan peperangan dengan bangsa lain dia bertanya dahulu kepada Tuhan. Ketika Allah menjawab Daud untuk maju, dia pun maju untuk berperang. Ketika Tuhan menjawab Daud untuk tidak maju, dia pun tidak maju. Di sini kita bisa melihat bagaimana tindakan dari Daud. Sebelum melakukan sesuatu, Daud bertanya dahulu kepada Allah. Sebelum mengambil keputusan atau membuat pilihan, Daud bertanya kepada Allah yang Maha Tahu (omniscience).

Kehidupan orang Kristen juga dipenuhi dengan pilihan-pilihan. Pilihan untuk mengasihi atau membenci. Pilihan untuk taat atau memberontak. Pilihan untuk mengampuni atau membalas. Pilihan untuk berkenan pada Allah atau berkenan pada manusia. Pilihan untuk beribadah atau pesta pora. Pilihan untuk sangkal diri atau mengumbar nafsu. Pilihan untuk pikul salib atau melepaskan salib. Pilihan untuk melakukan kehendak Allah atau keinginan diri sendiri. Pilihan untuk masuk surga atau neraka.

Sebelum mengambil keputusan atau membuat pilihan, bertanya dahulu kepada Allah. Apakah itu sesuai kehendak Allah, Firman Allah atau tidak? Tuntunan Firman Allah, Doa dan pimpinan Roh Kudus akan membawa kita pada keputusan dan pilihan yang tepat dan benar. Adakalanya keputusan atau pilihan itu berat dan bertentangan dengan keinginan kita, akan tetapi keputusan dan pilihan yang sesuai dengan kehendak Allah dan rencana Allah itu pasti yang terbaik dan mendatangkan damai sejahtera (Yeremia 29:11). Biarlah kita belajar dari Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus yang menyerahkan pilihan-Nya dan keputusan-Nya kepada Allah Bapa ketika Dia berdoa di Getsemani ketika akan menghadapi salib (Matius 26:39). Itulah keputusan dan pilihan yang tepat dan benar: pilihan dan keputusan yang menggenapi rencana/rancangan Allah dalam kehidupan-Nya, karena untuk itulah visi dan misi kedatangan Yesus ke dalam dunia ini, yaitu menebus dosa manusia.

3.     Mendapat Kasih Karunia Allah

Daud dipilih, diangkat dan dipakai oleh Allah karena dia mendapat kasih karunia di mata Allah. Apakah rahasia seseorang sehingga dia mendapat kasih karunia Allah? Mari kita melihat dalam kitab Kejadian 6:8-9. Kejadian 6:8-9 mencatat : “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Inilah riwayat Nuh : Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” Itulah yang membuat Nuh mendapat kasih karunia di mata Allah, yaitu hidup bergaul dengan Allah. Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia di mata Allah sehingga mereka sekeluarga tidak dibinasakan oleh Allah dengan air bah. Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia berupa keselamatan dari pembinasaan oleh air bah. Begitu juga dengan Daud, dia mendapat kasih karunia dari Allah berupa pemilihan, pengangkatan dan pemakaian dari Allah sebagai Raja Israel.

Kasih karunia adalah pemberian dari Allah. Karena Allah adalah kasih, maka merupakan sifat Allah untuk memberi kepada yang dikasihi-Nya. Kasih karunia Allah bisa berupa keselamatan, perlindungan, kekayaan, kehormatan, hikmat atau kepandaian, dan lain-lain.

Alkitab mencatat tokoh-tokoh yang mendapat kasih karunia di mata Allah karena mereka memiliki pergaulan dengan Allah. Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia berupa keselamatan dari air bah. Henokh mendapatkan kasih karunia berupa pengangkatan oleh Allah karena dia bergaul dengan Allah. Daniel mendapatkan kasih karunia berupa kepandaian 10 kali lipat dari pada pejabat raja lainnya di Babilonia dan pengertian tentang mimpi. Maria mendapat kasih karunia untuk mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan bayi Yesus. Kasih karunia itu diberikan kepada mereka karena mereka memiliki pergaulan dengan Allah.

Pergaulan atau relasi dengan Allah akan membuat seseorang mendapat kasih karunia di mata Allah. Inilah juga yang dialami oleh Daud. Karena Daud memiliki pergaulan atau relasi dengan Allah, dia mendapatkan kasih karunia dari Allah berupa pemilihan, pengangkatan dan pemakaian dari Allah sebagai seorang Raja Israel yang diurapi.

Apakah Daud orang yang sempurna, tanpa dosa sehingga dia mendapat kasih karunia Allah? Tidak. Kita tahu dosa Daud, dia pernah menghampiri Isteri Uria, Batsyeba. Dengan kata lain, Daud berzinah dengan Batsyeba. Lalu mengapa Allah tetap memakai Daud sebagai raja Israel? Hal ini karena dia tetap memiliki pergaulan dengan Allah. Ketika Nabi Natan menegur Daud atas dosanya, dia sadar dan mengadakan pemberesan dengan Allah. Mazmur 51 mengungkapkan tentang pengakuan dosa Daud. Daud juga adalah orang berdosa, tetapi dia tetap mendapat kasih karunia Allah karena dia tetap memiliki pergaulan dengan Allah. Begitu juga dengan kita, orang berdosa yang telah ditebus oleh Yesus Kristus, kasih karunia Allah bisa menjadi bagian kita jikalau kita memiliki pergaulan dengan Allah.

Selasa, 17 Januari 2017

Paulus : Tidak Tawar Hati






2 Korintus 4:16-18
16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.




Sebagai seorang rasul yang dipanggil oleh Allah, Rasul Paulus mengalami banyak kesulitan, tantangan, penderitaan dalam memberitakan Injil Allah kepada bangsa-bangsa lain. Akan tetapi, ia meyakini bahwa Allah yang sudah memanggil dia dan memberikan kepercayaan itu akan tetap menyertai dan membela dalam perjalanan misinya. Dalam Surat 2 Korintus ini, Rasul Paulus membeberkan kesulitan, penderitaan yang dia alami dalam perjalanan misinya. 3 kali mengalami karam kapal, terkatung-katung ditengah laut, tetapi Allah tetap menolong (2 Korintus 11:25). 5 kali disesah orang Yahudi, setiap kali disesah empat puluh kurang satu pukulan (2 Korintus 11:24). 1 kali dirajam dengan batu kemudian diseret ke luar kota karena orang-orang menyangka dia telah mati (2 Koritus 11:25). Ia mengalami apa yang namanya kelaparan, kedinginan, kurang tidur, bekerja berat (2 Korintus 11:27).

Selain itu juga, Rasul Paulus mengalami tantangan dari dalam jemaat. Ada orang-orang yang mempertanyakan status, kewibawaan kerasulan dari Paulus (2 korintus 12:11-18). Hal lain yang menyebabkan jemaat Korintus mengkritik Paulus adalah keputusannya untuk tidak bergantung secara finansial kepada mereka (2 Korintus 11:7-9). Akan tetapi, semuanya itu tidak membuat Rasul Paulus tawar hati.   

Rasul Paulus melakukan semuanya itu karena Injil. Dia tidak menjadi tawar hati. Dalam Alkitab versi King James Version, digunakan kata faint not untuk kata tidak tawar hati. Dalam Alkitab versi New English Translation, digunakan kata not despair untuk kata tidak tawar hati. Rasul Paulus tidak menjadi lemah dan tidak menjadi putus asa dalam menghadapi semuanya itu.

Apakah yang menjadi rahasia Rasul Paulus  tetap tidak tawar hati:

1.) Memiliki Pilihan yang Tepat (2 Korintus 4:16)

Secara alami, manusia lahiriah atau tubuh jasmani akan menjadi lemah dan mengalami penurunan sejalan dengan berjalannya waktu. Ini merupakan hukum alam yang tidak dapat ditentang, setiap manusia akan menjadi tua dan mengalami penurunan fisik. Akan tetapi, Rasul Paulus mengambil suatu pilihan yang tepat yaitu walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot, manusia batiniahnya semakin diperbaharui dan diperkuat.

Ada dua pilihan bagi manusia yaitu apakah manusia batiniahnya semakin diperbaharui atau semakin menurun seiring dengan menurunnya manusia lahiriah yang diterpa usia. Jikalau seseorang tetap melekat pada Tuhan, tetap mengandalkan Tuhan, tetap setia kepada Tuhan, manusia batiniahnya semakin diperbaharui walaupun manusia lahiriahnya semakin merosot karena usia. Sebaliknya, jikalau seseorang semakin jauh dari Tuhan, mengandalkan diri sendiri (kepandaian, kekayaan, jabatan, penampilan dll.), meninggalkan Tuhan, manusia batiniahnya semakin menurun ketika manusia lahiriahnya semakin menurun juga karena usia.

Rasul Paulus tidak menjadi tawar hati. Ia tidak menjadi lemah dan berputus asa ditengah kesulitan dan penderitaan yang dia alami dalam menjalankan panggilannya. Ia mengetahui bahwa di dalam Tuhan, bersama dengan Tuhan, manusia batiniahnya semakin diperbaharui walaupun manusia lahiriahnya semakin menurun karena usia. Nabi Yesaya berkata bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu; mereka berjalan dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40:31). Dipandang dari sisi rohani, kehidupan merupakan gerak mendaki bukit menuju ke hadirat Allah. Manusia tidak perlu takut terhadap tahun-tahun yang akan datang, karena tahun-tahun itu akan membawanya makin dekat, tidak kepada kematian tetapi kepada Allah.

2.) Memiliki Pengharapan (2 Korintus 4:17)

Rasul Paulus memiliki pengharapan bahwa penderitaan yang dialaminya turut mengerjakan kemuliaan kekal nanti. Paulus meyakini bahwa penderitaan dan kesulitan yang dia alami tidaklah sia-sia. Dia meyakini bahwa Allah turut bekerja melalui kesulitan dan penderitaan yang dia alami untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Dia juga meyakini bahwa penderitaan sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan nanti (Roma 8:18).

Mengapa Rasul Paulus tidak menghindar dari penderitaan yang dia alami? Karena dia mengetahui bahwa sebagai murid Kristus, kita tidak hanya dikaruniakan untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia (Filipi 1:29). Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, Dia datang ke dalam dunia ini untuk mengambil bagian dalam penderitaan. Di dalam penderitaanNya itu, Dia mengerjakan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Di dalam Kristus, penderitaan itu adalah panggilan dan karunia (1 Petrus 2:21; Filipi 1:29).   

Ada sebuah perumpamaan tentang dua orang pengusaha yang akan melakukan perjalanan bersama untuk mengadakan bisnis di seberang lautan. Mereka menyewa kapal laut untuk menyeberangi lautan menuju ke sebuah pulau. Akan tetapi, dalam perjalanan di tengah laut, datanglah badai, ombak dan angin kencang menerpa kapal itu sehingga kapal itu hancur menjadi puing-puing di tengah laut. Untuk menyelamatkan diri mereka, kedua orang tersebut berusaha untuk memegang pada puing-puing kayu yang mengapung. Pengusaha yang pertama tetap memiliki pengharapan bahwa pasti akan ada orang yang akan menyelamatkan mereka, apakah itu akan ada perahu lain yang lewat atau pesawat terbang yang akan lewat atau pun kuasa Tuhan sendiri yang akan menyelamatkan mereka. Pengusaha yang kedua tidak mempunyai pengharapan lagi. Dia berpikir di tengah laut jarang kapal atau perahu yang akan lewat. Dia berpikir bahwa tidak mungkin untuk mencapai daratan dengan keadaan seperti itu. Baginya, lebih baik mati saja dari pada menderita lebih lama terapung di atas laut. Setelah tiga hari berlalu dari peristiwa tersebut, apa yang terjadi dengan kedua pengusaha itu? Pengusaha yang pertama tetap memegang dan memeluk puing kayu walaupun tubuhnya sudah mulai lemah. Sedangkan pengusaha yang kedua telah melepaskan pegangannya dari kayu sehingga dia mati tenggelam. Dari cerita perumpamaan ini, kita bisa menarik pelajaran bahwa pengharapan membuat seseorang lebih tangguh. Pengharapan membuat seseorang tidak mudah menyerah. Begitu juga dengan Rasul Paulus, pengharapan yang benar terhadap penderitaan yang turut mengerjakan kemuliaan kekal itulah yang  yang membuat Rasul Paulus tidak tawar hati dalam menghadapi penderitaan bahkan ketika maut mengancam.  

3.) Memiliki Perspektif Kekekalan (2 Korintus 4:18)

Rasul Paulus tidak memfokuskan pandangannya pada apa yang kelihatan, melainkan pada apa yang tidak kelihatan. Menurut Paulus, apa yang kelihatan adalah sementara sedangkan apa yang tidak kelihatan adalah kekal. Oleh karena itu, dia tidak memfokuskan pandangannya pada perkara yang duniawi, melainkan memfokuskan pandangannya pada perkara sorgawi.

Perspektif kekekalan itulah yang dimiliki oleh Rasul Paulus. Segala sesuatu yang dia lakukan termasuk panggilannya sebagai seorang rasul, dilakukannya dengan perspektif kekekalan. Dia melakukan semuanya itu karena dia melihat jauh kepada kekekalan. Dia tidak mengejar upah duniawi, tetapi dia mengejar upah sorgawi. Begitu juga dengan Musa, pemimpin yang membawa keluar bangsa Israel dari Mesir. Musa lebih memilih menderita bersama orang Israel dari pada hidup senang bersama putri Firaun karena pandangannya ia tujukan pada perkara yang tidak kelihatan (Ibrani 11:24-27). Ia tidak memandang kepada perkara yang kelihatan yaitu putri Firaun yang cantik dan kaya. Akan tetapi, ia mengarahkan pandangannya pada apa yang tidak kelihatan, upah sorgawi. Perspektif kekekalan itulah yang memotivasi Rasul Paulus untuk tetap maju dan tidak mudah menyerah dalam menjalankan panggilannya.

Setiap murid Kristus memiliki panggilan masing-masing yang harus dikerjakan dengan tanggung jawab. Akan tetapi, dalam menjalankan panggilan itu seringkali kita harus menghadapi apa yang disebut kesulitan, penderitaan, tantangan. Sebagaimana Rasul Paulus tidak tawar hati dalam menghadapi semuanya itu, kita boleh diingatkan supaya tidak tawar hati dalam menjalankan panggilan yang Allah percayakan kepada kita masing-masing.
      






Minggu, 25 Desember 2016

Peristiwa Natal di antara Sepasang Kekasih



PERISTIWA NATAL DI ANTARA SEPASANG KEKASIH




Matius 1:18-25


18Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

19Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

20Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

21Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

22Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

23"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.

24Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

25tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.


Natal diperingati sebagai hari kelahiran Yesus Kristus yang diimani oleh umat Kristiani sebagai Tuhan dan Juruselamat. Yesus Kristus adalah Firman Allah yang menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:1&14) dan Dia akan menghakimi orang-orang pada akhir zaman (I Petrus 4:5; Yohanes 9:39; II Timotius 4:1). Kelahiran Yesus Kristus merupakan hal yang penting dan sentral dalam iman Kekristenan. Visi kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia ini adalah untuk menebus dosa-dosa manusia (Yohanes 3:16). 

Peristiwa kelahiran Yesus Kristus berlatar belakang dari sepasang tunangan yang hidup sederhana. Yusuf yang adalah seorang tukang kayu yang tulus hati dan Maria yang adalah seorang perempuan yang baik. Tiba-tiba tanpa disangka dalam masa pertunangan antara Yusuf dan Maria, terjadilah suatu peristiwa yang mengagetkan dan diluar akal sehat. Maria menjadi hamil sebelum dia dan Yusuf hidup bersama sebagai suami istri. Maria menjadi hamil karena kandungan dari Roh Kudus.

Apakah pesan Natal yang dapat kita pelajari dari karya Allah yang terjadi di dalam hubungan pertunangan Yusuf dan Maria ini ?

1.)        Ada saatnya Allah bekerja tidak sesuai dengan rencana dan keinginan kita

Peristiwa kelahiran Yesus Kristus terjadi dengan suatu hal yang di luar akal pikiran manusia. Maria yang belum hidup bersama dengan tunangannya Yusuf, tiba-tiba mengandung seorang anak. Hal ini merupakan hal yang mengejutkan bagi Maria dan Yusuf. Bahkan hal ini adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh sepasang kekasih yang belum hidup sebagai suami istri. Bagi orang Yahudi, seorang perempuan yang mengandung di luar nikah hukumnya adalah zinah. Hukumannya adalah dirajam dengan batu sampai mati.

Akan tetapi, karena Yusuf adalah seorang yang tulus hati, dia tidak berniat untuk mempermalukan Maria dan dia tidak berniat untuk menghukum Maria dengan memberitahukan kehamilannya kepada orang banyak. Yusuf berniat untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Dalam masyarakat Yahudi, hubungan pertunangan itu sangat kuat dan jikalau seseorang tidak jadi menikahi tunangannya,  dia harus menceraikan tunangannya agar bebas dari ikatan itu.

Peristiwa Natal diwarnai dengan kejadian yang tidak sesuai dengan rencana dan kehendak dari Yusuf dan Maria. Hal yang tidak menyenangkan dan beresiko terjadi di dalam kehidupan pertunangan Yusuf dan Maria. Betapa kecewanya Yusuf ketika mengetahui tunangannya yang dia cintai, Maria, hamil di luar nikah. Berbagai kecurigaan dan perasaan bisa saja timbul di benak dan hati Yusuf. Betapa terkejutnya Maria ketika tiba-tiba saja dirinya menjadi hamil sebelum hidup sebagai suami istri dengan Yusuf. Betapa beratnya resiko akan dirajam dengan batu sampai mati, jikalau orang Yahudi lainnya tahu tentang kehamilannya di luar nikah. Peristiwa Natal menjadi seperti suatu pukulan dalam hubungan pertunangan Yusuf dan Maria.

2.)        Respon yang benar terhadap rencana dan kehendak Allah

Ketika Allah bekerja sesuai dengan rencana dan kehendak kita, dengan mudah kita dapat mengatakan bahwa Allah itu baik. Tanpa keberatan kita akan mengikuti dan melakukan apa yang menjadi kehendak Allah itu. Akan tetapi, ketika Allah bekerja tidak sesuai dengan rencana dan kehendak kita, dapatkah kita dengan mudah mengatakan bahwa Allah itu baik? Dapatkah kita dengan mudah menerima dan tunduk kepada kehendak Allah itu? Hal yang sama terjadi dalam kehidupan pertunangan Yusuf dan Maria.

Apakah respon Yusuf dan Maria ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana dan kehendak mereka? Bagi Yusuf, awalnya dia bermaksud untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Ketika Yusuf mempertimbangkan hal itu, malaikat Allah menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dan mengatakan supaya jangan takut mengambil Maria sebagai istri karena anak dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Secara logika, memang sulit bagi Yusuf untuk memahami bagaimana karya Roh Kudus di dalam rahim Maria. Bagi masyarakat Yahudi, peran Roh Kudus dipahami sebagai pembawa kebenaran Allah kepada manusia. Akhirnya, Yusuf mengambil keputusan untuk tunduk pada rencana dan kehendak Allah dan mengambil Maria sebagai istrinya setelah terjadi “perjumpaan spiritual” dalam mimpinya. Bagi Maria, ketika malaikat Allah menampakkan diri kepadanya dan berkata bahwa dia akan mengandung anak dari Roh Kudus, Maria tunduk kepada rencana dan kehendak Allah. Kita bisa belajar dari respons Maria dan perkataannya kepada malaikat : "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Inilah respon Yusuf dan Maria ketika rencana dan kehendak Allah berjalan tidak sesuai dengan rencana dan kehendak mereka. Kekecewaan, kecurigaan, keterkejutan, ketidakpercayaan, resiko, semuanya sirnah oleh penundukan terhadap rencana dan kehendakan Allah di dalam ketaatan. Yusuf dan Maria menempatkan rencana dan kehendak Allah di atas rencana dan kehendak mereka. Mereka meresponi rencana dan kehendak Allah dengan ketaatan. Peristiwa Natal boleh berjalan karena Yusuf dan Maria meresponi rencana dan kehendak Allah dengan ketaatan.

3.)        Allah adalah Imanuel bagi umatNya

Yusuf pun melakukan tepat seperti apa yang telah disampaikan oleh malaikat Tuhan kepadanya. Dia mengambil Maria sebagai istrinya. Begitu juga dengan Maria, dia tunduk kepada kehendak Allah di dalam hidupnya. Dia rela mengandung seorang anak dari Roh Kudus. Setelah Anak itu lahir, Yusuf pun memberikan nama Yesus kepadanya. Anak itu juga disebut Imanuel, yang artinya “Allah menyertai kita”. Allah tetap menyertai Yusuf dan Maria dalam menghadapi dan menjalani peristiwa Natal yang terjadi tidak sesuai dengan rencana dan kehendak mereka. Akhirnya, melalui sepasang tunangan, Yusuf dan Maria, lahirlah seorang bayi Yesus Kristus yang adalah inkarnasi Allah ke dalam dunia ini. 

Sepasang kekasih ini menjadi alat Allah dalam peristiwa Natal karena penundukkan dan ketaatan mereka kepada rencana dan kehendak Allah. Apakah yang terjadi jikalau Yusuf dan Maria tidak tunduk kepada rencana dan kehendak Allah? Mereka tidak akan menjadi alat Allah dalam karya  peristiwa Natal. Ketaatan dan penundukan mereka terhadap kehendak dan rencana Allah membuat Allah turun tangan dan menyertai mereka dalam setiap aspek kehidupan mereka. Ketika Maria mengandung dan melahirkan Anak itu, Allah menyertai perjalanan mereka. Ketika Herodes berniat untuk membunuh Anak itu, Allah tetap menyertai dan melindungi mereka dari kejahatan Herodes. Allah Imanuel menjadi nyata dalam kehidupan mereka dalam suka dan duka.
Amin…