Selasa, 15 Februari 2011

Shalom




Kejadian 41:1-16
           

Perikop di atas berbicara mengenai Firaun yang bermimpi. Ia menjadi gelisah karena mimpinya itu aneh dan membuatnya penasaran akan arti dari mimpi itu. Di dalam mimpinya itu, Firaun melihat ada tujuh lembu yang tubuhnya kurus memakan tujuh lembu yang tubuhnya gemuk. Firaun juga melihat tujuh bulir gandum yang berisi menelan bulir gandum yang kurus.

Karena Firaun tidak mengetahui apakah arti dari mimpinya yang aneh itu, ia menjadi gelisah dan ingin mencari tahu arti dari mimpinya itu. Firaun kemudian memanggil semua ahli dan orang berilmu di Mesir, tetapi Firaun tetap tidak dapat mendapatkan arti dari mimpinya itu.
Melihat kejadian ini, juru minuman berinisiatif memberitahukan kepada Firaun mengenai satu orang yang dapat menceritakan arti dari mimipi, yaitu Yusuf. Hal ini berdasarkan pengalaman dari juru minuman yang pada saat dipenjara dia bermimpi dan mimpinya itu dapat diterangkan oleh Yusuf. Apa yang diterangkan oleh Yusuf itu ternyata terjadi bagi juru minuman bahwa ia tidak akan dihukum, melainkan dikembalikan kepada posisinya atau jabatannya yang semula.

Juru minuman kemudian memberitahukan kepada Firaun bahwa ada Yusuf di penjara yang dapat mengartikan mimpi. Firaun kemudian memanggil Yusuf dan menceritakan segala mimpinya itu kepada Yusuf. Kemudian Yusuf menjawab bahwa Allah saja yang akan memberikan kesejahteraan kepada Firaun. Mengapa Yusuf menjawab bahwa Allah saja yang akan memberkan kesejahteraan kepada Firaun? Hal ini karena Yusuf mengetahui bahwa yang diperlukan oleh raja adalah kesejahteraan (shalom) dan hanya Allah saja yang bisa memberikan shalom itu.

Di dalam ayat 16 tersebut, kata kesejahteraan berasal dari bahasa Ibrani shalom (שׁלום). Dalam hal ini, kita akan melihat bahwa pengertian dari kata shalom bermacam-macam, tidak hanya berarti kesejahteraan saja. Berikut adalah arti dari kata shalom yang digunakan dalam Alkitab :

1.)         Proteksi/Perlindungan (Imamat 26:3-6)
Janji Allah kepada orang Israel yaitu jikalau mereka hidup berpegang pada ketetapan dan perintah Allah, mereka akan mendapatkan damai sejahtera dari Allah. Dalam bagian ini, kata shalom ditujukan pada perlindungan dari binatang buas dan pedang musuh.

2.)         Keamanan (Ayub 21:9)
Ayub berkeluh kesah bahwa sepertinya orang fasik mengalami kemujuran. Kemujuran orang fasik sepertinya bertahan lama dalam pandangan Ayub. Dalam bagian ini, kata shalom ditujukan pada keamanan dari rasa takut.

3.)         Kesehatan (Kejadian 43:27)
Yusuf bertanya kepada saudara-saudaranya tentang keadaan ayahnya yang sudah tua. Dalam bagian ini, kata shalom ditujukan kepada keadaan sehat.

4.)         Kesejahteraan/Kemakmuran (Mazmur 122:7)
Doa untuk Yerusalem agar ada kesejahteraan/kemakmuran di lingkungan tembok Yerusalem. Dalam hal ini, kata shalom ditujukan pada kesejahteraan/kemakmuran.

5.)         Keadaan Baik/Tidak Celaka (Kejadian 37:14)
Yakub menyuruh Yusuf untuk melihat saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan ternak apakah mereka dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. Dalam hal ini, kata shalom ditujukan pada keadaan baik atau tidak celaka.

6.)         Ketenangan/Ketentraman (Kejadian 43:23)
Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya agar tetap tenang dengan keadaan yang terjadi. Dalam hal ini, kata shalom ditujukan pada ketenangan.

Kita telah melihat bahwa shalom itu memiliki beberapa arti sesuai dengan konteks penggunaannya. Selain itu juga, kata shalom seringkali digunakan oleh orang dalam ucapan salam. Dalam bahasa Ibrani, orang mengucapkan salam "shalom aleikhem" yang diartikan damai sejahtera bagi engkau. Begitu juga dalam bahasa Arab, orang mengucapkan salam  "assalam mualaikum" yang juga berarti damai sejahtera bagi engkau. Orang Kristen janganlah menganggap remeh ucapan salam, karena di dalam salam terkandung makna yang dalam. Di dalam salam, terkandung doa dicurahkannya damai sejahtera.  

Dalam perikop di atas, Firaun menjadi gelisah karena tidak mengerti arti dari mimpinya yang aneh. Firaun mencari jawaban dari para ahli dan orang berilmu di Mesir, tetapi dia tidak menemukan jawabannya. Firaun berusaha mencari jawaban atas persoalan mimpinya yang menggelisahkan supaya dia beroleh shalom.  Akhirnya, Firaun mendapatkan jawaban atas persoalan mimpinya dari Allah melalui pribadi Yusuf, hamba Allah yang hidup. Shalom diperoleh Firaun dan negerinya terluput dari bencana kelaparan yang datang. Firaun merasakan dan mengalami sendiri shalom dari Allahnya Yusuf, Allah yang hidup.

Manusia juga ingin mencari jawaban atas persoalan-persoalan hidupnya supaya dia beroleh shalom. Pada zaman sekarang, dengan meningkatnya iptek, ada banyak tawaran dari dunia yang menjanjikan jawaban atas permasalahan manusia melalui media massa (cetak, elektronik, internet). Belum lagi tawaran dari dunia spiriritisme atau kebatinan. Dunia menawarkan jawaban terhadap karir, perjodohan, usaha, masa depan dan sebagainya. 

Yesus Kristus sebagai Firman Allah yang menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:14) menawarkan shalom itu kepada manusia (Matius 11:28). Sebagai pengikut Kristus, jangan sampai kita terjebak di dalam tawaran-tawaran dunia yang memberikan tawaran dan jawaban yang palsu, yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Jangan kita mencari jawaban-jawaban dari dunia yang membelokkan kita dari jalan Allah. Yesus sendiri telah menawarkan shalom itu kepada kita. Hanya Allah saja yang dapat memberikan shalom kepada manusia. Shalom yang diberikan oleh Allah tidak seperti yang diberikan oleh dunia ini.

Ada suatu cerita mengenai Pak tani yang memiliki seekor bebek. Bebek yang dimiliki oleh Pak tani ini memiliki keistimewaan. Bebek ini dapat menghasilkan telur emas. Akan tetapi, tidak hanya Pak tani saja yang mengetahui bahwa bebek ini bisa menghasilkan telur emas, tetangganya juga tahu akan hal ini. Oleh karena itu, para tetangga dari Pak tani ini berusaha mencuri telur emas yang dihasilkan oleh bebek tersebut. Pak tani hanya mendapatkan satu telur emas setiap tiga hari. Padahal sebenarnya bebek itu bisa menghasilkan satu telur emas setiap harinya. Hal ini disebabkan karena tetangga dari Pak tani mengambil telur dari bebek itu setiap dua hari sedangkan pada hari yang ketiga telur emas yang satu tidak diambil dari kandang bebek.

Beberapa waktu lamanya, Pak tani tidak mengetahui bahwa bebek ini bisa menghasilkan satu telur emas setiap harinya. Akan tetapi, lama-kelamaan Pak tani mengetahui juga bahwa bebek ini bisa menghasilkan satu telur emas setiap harinya. Pak tani juga akhirnya mengetahui bahwa para tetangganya telah bersepakat untuk mengambil telur emas dari bebek Pak tani pada dua hari pertama sedangkan pada hari yang ketiga telur emas tidak diambil. Mengetahui apa yang terjadi, Pak tani tidak merasa marah dan kesal kepada tetangganya, malahan Pak tani berpikir bahwa tetangganya itu bodoh. Mereka hanya mengambil telur emasnya, tetapi tidak mengambil bebek Pak tani yang dapat menghasilkan telur emas. Mereka hanya mengambil telur emasnya tetapi tidak mengambil bebek yang menjadi sumber penghasil telur emas itu.

Sebagai orang percaya, jangan kita ke Gereja hanya karena motivasi mendapatkan berkat dari Allah. Akan tetapi, kita harus ke Gereja karena motivasi ingin bertemu dengan Allah sang pemilik dan pemberi berkat. Kalau kita hanya mencari berkat dan berkat, sama saja kita seperti tetangga pak tani yang bodoh itu. Kita harus mencari sumber berkat itu, yaitu Allah. Jikalau kita memiliki Allah, secara otomatis kita memiliki berkat-berkatnya Allah. Tinggal kita merespon tawaran dari Allah saja karena Tuhan Yesus sendiri telah menawarkan shalom yang sejati itu. Berkat shalom itu akan dilimpahkan oleh Allah kepada anak-anak-Nya.

 



   


Menyeberangi Sungai Yordan





Yosua 3:14 - 4:7



Sebelum Yosua memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, Musa adalah orang pertama yang dipanggil oleh Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Mereka melewati Laut Teberau dan padang gurun. Setelah sampai di dataran Moab, Musa tidak diperkenankan oleh Allah untuk memasuki tanah Kanaan dan menyeberangi Sungai Yordan. Allah memerintahkan Musa naik ke puncak Pisga. Ia hanya dapat melihat tanah Kanaan dari atas puncak gunung dan ia meninggal di sana.

Setelah Musa meninggal, Allah memerintahkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan. Dan Kitab Yosua ini, menceritakan tentang kisah bangsa Israel ketika mereka merebut negeri Kanaan di bawah pimpinan Yosua. Dialah yang menggantikan Musa memimpin umat Israel. Peristiwa-peristiwa penting yang dikisahkan di dalam kitab ini adalah penyeberangan Sungai Yordan, Jatuhnya Yerikho, pertempuran di Ai dan pengukuhan kembali perjanjian antara Allah dengan umat-Nya.

Dari pembacaan di atas, kita mengetahui bahwa bangsa Israel hendak menyeberangi Sungai Yordan. Allah sebelumnya telah memerintahkan Yosua untuk memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan menggantikan Musa. Allah memerintahkan supaya imam-imam pengangkut tabut berjalan di depan rombongan Israel.

Yosua pun memerintahkan supaya imam pengangkat tabut perjanjian berjalan terlebih dahulu untuk menyeberangi Sungai Yordan. Pada saat imam pengangkat tabut melangkahkan kaki pada tepi sungai Yordan, sungai itu terputus sehingga kelihatan bagian yang kering. Bangsa Israel pun menyeberangi sungai Yordan itu. Pada saat bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut tetap berdiri di tengah dasar sungai Yordan sampai seluruh rombongan bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan. Dalam penyeberangan itu, seperti yang telah diperintahkan oleh Allah, Yosua memilih seorang dari tiap-tiap 12 suku Israel untuk mengambil batu di dasar sungai Yordan, kemudian membawanya ke tepi di dekat mereka akan bermalam. Hal ini supaya 12 batu yang diangkat itu boleh menjadi tanda dari mujizat yang telah Allah lakukan, yakni membelah sungai Yordan. Batu-batu ini akan menjadi tanda, saksi dan peringatan bagi anak-anak mereka, bahwa Allah telah membuat mujizat.

Dari kisah tersebut, ada tiga hal yang menarik untuk kita bahas.

● Pertama, Yosua memerintahkan para imam pengangkat tabut untuk berjalan di depan rombongan orang Israel menyeberangi sungai Yordan. Sebagai manusia, secara psikologis, para imam pengangkat tabut tentu memiliki perasaan takut. Akan tetapi, pada saat imam pengangkat tabut melangkahkan langkah pertama mereka di tepi sungai Yordan, sungai itu langsung berhenti mengalir. Ketika para imam taat kepada perintah Yosua walaupun itu mengandung resiko dan tidak masuk akal, Allah menyatakan mujizat-Nya: Air sungai Yordan berhenti mengalir; Aliran sungai Yordan pun terputus. Pada saat Allah menyatakan mujizat-Nya, hukum alam tidak berfungsi. Air tidak mengalir. 

● Kedua, pada saat bangsa Israel melewati sungai Yordan, imam pengangkut tabut tetap berada di tengah sungai Yordan dan Yosua memerintahkan masing-masing satu orang dari 12 suku orang Israel untuk mengambil batu di tengah dasar sungai Yordan dan membawanya ke tepi di mana mereka akan bermalam.
Kita dapat berimajinasi bagaimana keadaan bangsa Israel pada saat menyeberangi sungai Yordan. Jumlah orang Israel yang keluar dari tanah Mesir menurut para ahli kurang lebih 3 juta orang. Memang ada yang meninggal pada saat perjalanan di padang gurun, tetapi ada juga anak cucu mereka yang dilahirkan dalam perjalanan. Kemungkinan jumlah orang Israel yang melewati sungai Yordan ini juga tidak sedikit jumlahnya. Tentu mereka sangat sibuk dan sangat repot. Mereka harus menyeberangkan isteri mereka, anak mereka, barang-barang mereka, hewan ternak mereka, tenda-tenda mereka, dan lain-lain. Apalagi mereka menyeberang sungai Yordan secara bersama-sama atau bergerombolan, ini yang membuat lebih repot lagi, mereka mungkin berdesak-desakan. Akan tetapi, di tengah-tengah kesibukan mereka, mereka tetap bersedia untuk mengambil dan membawa batu dari dasar sungai Yordan ke tepi.

● Ketiga, ke-12 batu yang dibawa ke tepi akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel dan anak-anak mereka. Apabila anak-anak mereka bertanya tentang batu-batu itu, hal itu akan menjadi tanda peringatan bahwa Allah telah membuat aliran sungai Yordan terputus pada waktu mereka menyeberanginya.

Ada pepatah mengatakan : “orang yang bijak adalah orang yang dapat belajar dari pengalamannya sendiri, dan orang yang lebih bijak lagi adalah orang yang dapat belajar dari pengalaman orang lain.” Kisah tersebut merupakan pengalaman dari bangsa Israel. Lalu apakah yang dapat kita pelajari dari pengalaman bangsa Israel ini:

1.)      Ketaatan Pada Otoritas.
Para imam pengangkat tabut taat kepada perintah Yosua, orang yang Allah pilih untuk menggantikan posisi Musa. Mereka taat untuk berjalan di depan rombongan orang Israel untuk menyeberangi Sungai Yordan. Para imam pun melangkah dengan iman menyeberangi sungai Yordan dan apa yang terjadi? Terjadi mujizat dari Allah. Ketaatan mereka didasarkan oleh iman mereka kepada Allah. Allah yang sudah menyatakan kuasa-Nya melalui 10 tulah di Mesir. Allah yang sudah menolong mereka menyeberang Laut Teberau. Allah yang sudah memberi makan manna di padang gurun. Allah yang memimpin mereka dengan tiang awan di waktu siang dan dengan tiap api di waktu malam. Allah yang sudah memilih Musa adalah Allah yang juga memilih Yosua dan memberi otoritas kepada Yosua untuk memimpin bangsa Israel.

Bangsa Israel tunduk pada otoritas Yosua, yang memerintahkan untuk menyeberangi Sungai Yordan dengan para imam pengangkut tabut di depan rombongan orang Israel. Para imam tidak menganggap remeh Yosua dibandingkan dengan Musa yang telah dipakai untuk menyatakan mujizat demi mujizat dari Tuhan. Ketika orang Israel tunduk pada perintah dari Yosua, mujizat pun dinyatakan. Allah membuat aliran air Sungai Yordan berhenti mengalir sehingga orang Israel bisa menyeberang. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa penundukan pada otoritas yang Allah percayakan atas kita, siapapun itu, akan membawa kepada berkat dan mujizat dari Tuhan. Musa dan Yosua hanyalah alat Tuhan, yang empunya kuasa adalah Allah. Kuasa dan mujizat dari Allah dinyatakan ketika kita tunduk pada otoritas yang ada.   

2.)      Di Tengah Kesibukan Kita, Jangan Melupakan Apa Yang Allah Inginkan Untuk Kita Lakukan
Di tengah kesibukan orang Israel menyeberang sungai Yordan, Yosua memerintahkan satu orang dari tiap 12 suku untuk mengambil dan membawa batu dari dasar sungai Yordan ke tepi. Batu-batu itu akan menjadi tanda dan peringatan bagi bangsa Israel bahwa Allah telah telah melakukan mujizat dan menjadi peringatan bagi anak-anak mereka. Mereka tidak melupakan apa yang diperintahkan Allah ditengah kesibukan mereka menyeberangi sungai Yordan. 

Setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Seorang pelajar sibuk untuk belajar. Seorang dokter sibuk melayani pasien. Seorang petani sibuk bekerja di ladang/sawah. Seorang pendeta sibuk melayani jemaat-jemaat. Akan tetapi, di tengah kesibukan kita masing-masing, jangan melupakan apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Apapun profesi kita, ditengah kesibukan kita jangan lupa untuk bersaat teduh secara pribadi dengan Tuhan; jangan lupa beribadah kepada Tuhan; jangan lupa untuk membagi waktu dengan keluarga; jangan lupa untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan. Sebagai orang percaya, jangan hanya fokus dengan target, kepentingan, atau keinginan diri sendiri, melainkan tetap melakukan perintah dan kehendak Allah di tengah kesibukan kita.   

3.)      Jangan melupakan Allah setelah kita mengalami mujizat-Nya
Batu-batu yang diangkat dari dasar sungai Yordan akan menjadi bukti bagi orang Israel  bahwa mereka pernah menyeberangi Sungai Yordan dengan mujizat dari Allah. Dengan melihat batu-batu itu kembali, orang Israel akan diingatkan untuk tidak melupakan Allah-Nya dan perbuatan-Nya yang ajaib.. Allah tidak mau kita melupakan Dia dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Dengan mengingat pengalaman mujizat-mujizat yang telah kita alami bersama Allah  di masa lalu, akan membangkitkan kekuatan iman kita bahwa Allah yang sama sanggup melakukan mujizat yang kita perlukan di masa depan. 

Selain itu juga, batu-batu yang mereka bawa ke tepi Sungai Yordan akan menjadi tanda dan kesaksian bagi anak-anak mereka. Ketika anak-anak mereka bertanya tentang batu-batu itu, mereka dapat menceritakan mujizat yang telah mereka alami. Ada tanggung jawab dibalik mujizat yang telah mereka alami. Orang tua (suami dan istri) harus menceritakan hal tersebut kepada anak-anak mereka. Allah ingin pekerjaan-Nya diketahui oleh anak-anak. Allah ingin diri-Nya dikenal oleh anak-anak. Allah tidak ingin dilupakan oleh anak-anak. Begitu juga dengan kita, hendaklah kita memperkenalkan Allah kepada anak-anak kita. Jangan sampai anak-anak kita tidak mengenal dan melupakan Allah nenek moyangnya, yaitu Allah yang mengadakan mujizat; Allah yang menyelamatkan. Allah mau menyelamatkan anak-anak kita, keluarga kita.