Senin, 24 Januari 2011

Petrus : Pengorbanan Untuk Taat




Lukas 5: 1-11 
1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.   3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."   5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."  6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.  7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.  8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."                9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;  10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."   11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
            
           

Iman Kristen tidak terlepas dari apa yang dinamakan ketaatan. Hampir keseluruhan dari Alkitab juga berbicara mengenai ketaatan. Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden karena tidak taat. Abraham taat pada panggilan Allah walaupun tidak mengetahui tempat yang dia tuju. Musa taat ketika Allah memanggil dia untuk memimpin Orang Israel keluar dari Mesir. Orang Israel mendapat kemenangan demi kemenangan ketika mereka taat kepada Allah dan mengalami kekalahan dan hukuman ketika mereka tidak taat. Daniel aman berada di dalam gua singa karena tetap taat pada Allah. Yunus ditelan oleh ikan yang besar karena tidak taat pada perintah Allah. Yesus rela mati di atas kayu salib karena taat kepada Bapa. Tanpa ketaatan, firman Allah hanya merupakan dokumen sejarah Kitab Suci yang dipajang saja dan tidak memberi dampak dalam kehidupan kita.

Dari perikop di atas, Tuhan Yesus memberi perintah kepada Petrus untuk bertolak ke daerah danau yang lebih dalam. Yesus berkata kepada Petrus: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” Perkataan tersebut sepertinya merupakan hal yang simpel dan sederhana. Akan tetapi, jikalau kita melihat dan mempertimbangkan apa yang telah dilakukan oleh Petrus dan teman-temannya selama semalam-malaman sebelumnya, perkataan ini menjadi sesuatu yang membuat Petrus dan teman-temannya mengalami “pergolakan batin”. 

Mengapa Petrus mungkin mengalami “pergolakan batin” untuk melaksanakan perkataan dari Yesus ini? Karena semalaman sebelumnya Petrus dan teman-temannya sudah mencari ikan di danau yang sama dan hasilnya mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka pasti sangat kelelahan, bosan, dan merasa marah mungkin…. Sehingga untuk melakukan perkataan dari Yesus ini mereka mengalami suatu “pergolakan batin”. Diperlukan suatu pengorbanan untuk melakukan perkataan Yesus ini.

Petrus rela untuk taat kepada perkataan dari Yesus. Apakah pengorbanan yang dilakukan oleh Petrus untuk menaati/menuruti perkataan Yesus?

1. Untuk taat, Petrus rela mengorbankan pengetahuannya sebagai nelayan tulen

Kita mengetahui bahwa hampir sebagian dari murid Yesus adalah nelayan. Beberapa murid Yesus yang merupakan nelayan adalah Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Mereka semua adalah nelayan. Seorang nelayan pasti mengetahui teknik dan cara menangkap ikan yang benar dan tepat. Seorang nelayan juga mempunyai pengetahuan yang luas mengenai kelautan/perairan. Petrus sudah mengetahui seluk beluk danau Genasaret ini. Danau ini juga disebut dengan danau Galilea atau danau Tiberias. Petrus yang sejak kecil menjadi nelayan pasti sudah mengetahui seluk beluk danau ini dan mengetahui cara maupun teknik menangkap ikan dengan tepat.  Akan tetapi, Petrus yang adalah seorang nelayan tulen mau tunduk dan taat kepada perkataan Yesus yang adalah seorang tukang kayu.

Jikalau kita melihat latar belakang kehidupan profesi dari Yesus dan Petrus, secara logika perkataan Yesus tersebut sulit untuk dilakukan. Mengapa? Pertama, Yesus menyuruh Petrus untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya di sana setelah semalam-malaman Petrus bekerja dan tidak mendapatkan apa-apa. Petrus dan teman-temannya sudah semalam-malaman mencari ikan di danau itu, mungkin saja seluruh tempat di danau itu sudah mereka tebarkan jala. Kedua, jikalau kita melihat latar belakang profesi Petrus adalah seorang nelayan tulen, sedangkan latar belakang profesi Yesus hanyalah seorang tukang kayu. Secara logika, pasti Petrus lebih mengetahui waktu dan tempat yang tepat untuk menebarkan jala di danau itu. 

Terlepas dari itu,  Petrus tidak melihat secara lahiriah diri Yesus, melainkan Petrus mempunyai penglihatan rohaniah yang mendalam. Petrus melihat bahwa Pribadi yang menyuruhnya adalah Anak Allah sendiri, sang Mesias. Suatu kali Yesus bertanya kepada Petrus  “Siapakah Aku ini?” Petrus menjawab “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Petrus melihat bahwa pribadi yang menyuruhnya adalah pribadi yang mempunyai karisma, pribadi yang memiliki pengajaran yang agung dan pribadi yang memiliki kuasa.  Petrus pun akhirnya taat.

Kadang kala, sebagai manusia kita harus rela untuk mengorbankan pengetahuan kita demi taat kepada Allah karena pengetahuan manusia tidak sempurna. Allah adalah sumber pengetahuan dan pengetahuan Allah tidak ada bandingannya. Sebagai manusia, kita harus sadar diri, jangan sombong dan jangan bersandar pada pengertian sendiri. Kadang kala, kita harus merelakan sesuatu yang kita anggap sebagai benar dan yang terbaik bagi kita untuk taat kepada Allah dan firman-Nya.

2. Untuk taat, Petrus rela mengorbankan kesenangan/kenyamanan dirinya 

Sebelumnya, Yesus menyuruh Petrus menebarkan jalanya. Petrus dan teman-temannya telah mencari ikan semalam-malaman di tempat itu dan hasilnya mereka tidak mendapat apa-apa. Coba kita bayangkan, semalam-malaman bekerja mencari ikan di danau Galilea. Berjam-jam tidak tidur bergadang, menahan kantuk, sampai pagi pun mereka tidak mendapat apa-apa. Sungguh merupakan hari yang melelahkan. Petrus dan teman-temannya pasti sangat lelah semalam-malam mencari ikan, tetapi tidak mendapatkan apa-apa.

Pagi itu merupakan waktu yang tepat bagi Petrus dan teman-temannya untuk menepikan perahu dan pergi beristirahat. Akan tetapi, karena Yesus datang dan menyuruhnya, maka ia pun mau menurut pada perkataan Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam untuk menebarkan jalanya. Kelelahan dan keletihan tidak menghalangi Petrus untuk menurut perkataan Yesus. Petrus mengorbankan kesenangan dirinya untuk taat kepada Allah.   

3. Untuk taat, Petrus rela mengorbankan perasaannya 

Coba bayangkan, sudah semalam-malaman mencari ikan di tempat yang sama akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa juga. Setelah Petrus dan temannya sedang membasuh jala-jalanya karena sudah berhenti mencari ikan. Tuhan Yesus menyuruh Petrus untuk kembali mencari ikan dan menebarkan jalanya yang sama di danau yang sama. Pasti hal ini merupakan hal yang membosankan. Setelah melakukan hal yang sama di tempat yang sama semalam-malaman disuruh kembali untuk melakukan hal yang sama di tempat yang sama di pagi hari. Perasaan apa  yang timbul ketika sekian lamanya disuruh melakukan hal yang sama di tempat yang sama? Pastinya adalah perasaan bosan,  perasaan tidak enak, dalam bahasa gaul orang bilang “ah…. BT” dan yang paling ekstrim adalah perasaan marah.

Petrus bisa saja komplain pada Yesus ketika Yesus menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya di sana karena mereka sudah letih  dan disuruh melakukan hal yang sama lagi. Pada akhirnya, Petrus memilih untuk taat. Ia memilih untuk taat kepada perkataan Yesus. Ketaatan bukan mengenai perasaan tetapi merupakan pilihan. Petrus memilih untuk taat walaupun hasil sebelumnya mengecewakan. 

Selain itu, cerita ini juga melukiskan dimensi rohani yang lain. Yesus seringkali memakai kata ikan dalam perumpaan-Nya. Ikan yang baik dikumpulkan dalam pasu sedangkan ikan yang tidak baik dibuang (Matius 13:48). Ikan juga bisa melukiskan orang/jiwa. Petrus di panggil oleh Yesus untuk menjadi murid-Nya. Petrus yang adalah penjala ikan dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Yesus memanggil memanggil Petrus dan saudara-saudaranya (Andreas, Yakobus, dan Yohanes) untuk menjadi murid-Nya dan menjadi penjala manusia. Begitu juga dengan kita sebagai murid-murid Kristus, Allah juga memanggil kita untuk menjadi penjala manusia. Allah ingin kita membawa jiwa/orang kepada Kristus supaya mereka diselamatkan. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh murid Kristus untuk membawa jiwa bagi Allah, salah satunya dari sikap ketaatan hidup kita kepada Allah.

Taat itu tidak gampang. Ada hal yang harus dikorbankan untuk bisa taat. Pergumulan untuk rela mengorbankan sesuatu akan membuktikan sampai di mana kita mau taat. Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sendiri telah memberikan teladan bagaimana Dia rela mengorbankan segalanya dengan mengosongkan diri-Nya demi taat kepada rancangan Bapa untuk menyelamatkan mereka yang percaya. 
Amin…




Minggu, 23 Januari 2011

Ester : Memiliki Misi Tertentu


Ester 4:13-14 
"maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."



A.      Latar Belakang 

Kitab Ester ini menceritakan tentang keadaan orang Yahudi di Susan pada masa pemerintahan Kerajaan Persia. Jikalau kita melihat dalam sejarah Israel, sebelumnya pada abad ke-6 SM, kerajaan Israel dibuang ke Babel ± 70 tahun. Setelah masa pembuangan ini usai, ada orang Yahudi yang kembali ke Yerusalem tetapi ada juga orang Yahudi yang tetap tinggal di daerah jajahan Kerajaan Babilonia. Dalam hal ini, kitab Ester menceritakan orang Yahudi yang tidak kembali ke Yerusalem, yaitu keadaan orang Yahudi yang tinggal di daerah Susan, ibu kota Kerajaan Persia. Sedangkan Kitab Ezra dan Nehemia menceritakan bagaimana orang Yahudi kembali ke Yerusalem.

Orang Yahudi yang berada di Puri Susan ini adalah orang yang tidak kembali dengan rombongan lain ke Yerusalem. Setelah Kerajaan Babilonia kalah, Kerajaan Persia mengambil alih kekuasaan dan daerah dari Kerajaan Babilonia. Pada masa Ester ini, kerajaan yang berkuasa pada saat itu adalah kerajaan Persia. 


B.      Pembahasan 

Ayat 13 dan 14 ini adalah perkataan yang disampaikan oleh Mordekhai kepada Ester ketika bangsa Yahudi akan dimusnahkan di Persia. Pada saat itu, Ester sudah menduduki posisi sebagai Ratu Kerajaan Persia. Akan tetapi, sebelumnya kita akan melihat latar belakang kisah Kitab Ester ini.

Pada suatu saat raja mengadakan pesta di istana, kemudian raja memanggil ratunya, ratu Wasti. Akan tetapi, ratu Wasti menolak panggilan raja untuk memperlihatkan dirinya kepada orang-orang yang hadir dalam pesta itu. Hal ini membuat hati raja marah dan memecat Ratu Wasti. Akhirnya, raja mulai mengumpulkan perempuan-perempuan di daerah kerajaannya untuk menggantikan posisi ratu Wasti. Singkat cerita, akhirnya raja tertarik pada seorang perempuan yang bernama Ester, parasnya cantik dan elok. Ester ini adalah orang Yahudi, tetapi Mordekhai melarang dia untuk memberitahukan kewarganegaraannya sebagai orang Yahudi.

Siapakah Ester? Ester adalah seorang Yahudi yang tinggal di Susan, kerajaan Persia. Ester diangkat sebagai anak oleh Mordekhai. Mordekhai dengan Ester masih memiliki hubungan keluarga. Ester ini adalah anak dari saudara ayahnya Mordekhai. Oleh karena Ester sudah tidak memiliki ayah dan ibu lagi, Mordekhai mengangkatnya sebagai anak.

Ester pun akhirnya menjadi ratu mendampingi Raja Ahasyweros di Persia. Dalam hal ini, Ester pun masih merahasiakan identitasnya dari Raja Ahasyweros. Pada suatu saat raja memberikan kedudukan yang terhormat kepada Haman di atas semua pembesar lainnya. Seluruh pegawai di pintu gerbang raja berlutut kepada Haman, hanya Mordekhai yang tidak mau berlutut kepadanya. Hal ini membuat Haman panas hati dan dia tidak hanya berikhtiar untuk membunuh Mordekhai, tetapi juga bangsanya Mordekhai yang tinggal di Persia. Haman berusaha untuk membunuh semua orang Yahudi di Persia.

Mordekhai pun memberitahukan hal ini kepada Ester yang sudah menjadi ratu di Istana raja Ahasyweros. Ester harus menghadap raja untuk membahas mengenai masalah ini. Mordekhai berkata kepada Ester : “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja hanya engkau yang akan terluput dari semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain… Siapa tahu mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

Mordekhai dalam hal ini menegur Ester, bahwa walaupun Ester berada di dalam istana raja, ia juga tidak aman karena dia juga orang Yahudi. Jikalau Ester menolak untuk menyelamatkan bangsanya, maka pertolongan terhadap orang Yahudi pun akan datang dari tempat lain, yang dimaksud dengan tempat lain ini adalah bisa orang lain, dan bisa juga Allah sendiri yang akan menolong umat-Nya. Pada saat ini, hanya Esterlah satu-satunya orang yang dapat diharapkan untuk menyelamatkan bangsa Yahudi yang akan dimusnahkan di Persia atas inisiatif Haman, pembesar raja Ahasyweros.

Akhirnya, atas pemberitahuan Mordekhai, Ester pun mengambil resiko dan menghadap raja untuk menyelamatkan bangsanya. Ester pun berpuasa dan pergi menghadap raja Ahasyweros. Singkat cerita, Ester berhasil meyakinkan raja dan bangsa Yahudi tidak jadi dimusnahkan. Sebaliknya, Haman yang berniat membunuh orang Yahudi akhirnya dihukum oleh raja, digantung pada tiang sula.

Di dalam ayat 14 dikatakan: "... siapa tahu mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." Sepertinya di dalam ayat ini terkandung arti yang dalam. Apakah arti perkataan Mordekhai ini?

Jikalau kita melihat ayat 14 ini, sepertinya di dalam perkataan Mordekhai ini terkandung suatu pengertian bahwa keterpilihan Ester sebagai ratu bukanlah suatu kebetulan saja. Dengan kata lain, ada suatu tujuan tertentu dari Allah untuk Ester, ketika Ester sebagai orang Yahudi terpilih sebagai ratu di Persia. Dibalik keterpilihan Ester sebagai ratu di Persia pasti ada suatu tujuan atau misi tertentu. Bahwa di dalam keterpilihan Ester sebagai ratu di Persia bukanlah suatu kebetulan, melainkan hal itu merupakan rencana Allah supaya Ester menyelamatkan bangsanya, bangsa Yahudi yang akan dimusnahkan di Persia. Itulah misi keterpilihan Ester sebagai ratu di Persia. Inilah maksud perkataan yang disampaikan oleh Mordekhai, ayah angkatnya Ester. Allah memilih Ester menjadi ratu di Persia karena Allah mempunyai satu misi untuk Ester.

Berbicara mengenai misi, apakah kehidupan Tuhan Yesus memiliki misi? Ya tentu saja. Jikalau kita ada pada saat Yesus disalibkan di Yerusalem, mungkin apa respon/tanggapan kita? Mungkin saja kita sedih karena Yesus harus mati di masa usianya yang masih muda, kurang lebih 33 1/2 tahun. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus pada saat di salib? Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Yesus di kayu salib adalah “sudah selesai” (Yoh. 19:30). Yesus telah menyelesaikan tugas dan misi-Nya datang ke dunia ini. Ia datang untuk menebus dosa-dosa manusia.

C.      Aplikasi 

Ester telah memenuhi misinya, yaitu menyelamatkan seluruh orang Yahudi yang akan dimusnahkan di Kerajaan Persia. Begitu juga Tuhan Yesus sudah menyelesaikan tugas dan misinya, yaitu untuk menebus dosa-dosa seluruh manusia. Apa yang terjadi dalam kehidupan Ester bukanlah kebetulan dan apa yang terjadi dalam kehidupan Tuhan Yesus juga bukanlah suatu kebetulan. Apa yang terjadi di dalam kehidupan kita bukanlah kebetulan, karena dibalik apa yang kita hadapi, Allah memberikan kita misi untuk kita laksanakan.

Apapun kondisi yang kita alami, apapun pergumulan yang kita hadapi, dimanapun kita berada, Allah memberikan misi untuk kita kerjakan. Siapapun orang tua kita, siapapun suami kita, siapapun istri kita, siapapun anak kita, apapun permasalahan yang terjadi dalam keluarga kita, itu bukanlah suatu kebetulan. Sama seperti Ester, permasalahan yang dihadapi Orang Yahudi di Persia maupun keterpilihan Ester sebagai ratu di Persia bukanlah suatu kebetulan. Dibalik apa yang terjadi dan apa yang kita hadapi, Allah memberikan misi bagi kita untuk kita lakukan. Sebagai seorang Ayah, Allah memberikan misi untuk dilakukan bagi istri, anak-anak maupun seluruh keluarga. Sebagai seorang ibu, Allah memberikan juga misi untuk dilakukan baik itu bagi suami, anak-anak dan seluruh keluarga. Sebagai seorang anak, Allah juga telah menyiapkan misi untuk kita lakukan bagi ayah, ibu maupun keluarga besar kita. Apapun kedudukan, keadaan maupun profesi kita, Allah sudah menyediakan misi untuk kita lakukan dibalik apa yang kita hadapi dan alami saat ini.

D.      Penutup 

Sebagaimana Kristus sudah menyelesaikan misinya sebagai Juruselamat, begitu juga Ester telah memenuhi misinya sebagai ratu, selanjutnya kita sebagai Anak Allah juga memiliki misi masing-masing yang harus kita lakukan baik itu di dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan lain-lain. Sehingga pada saat kita mencapai akhir hidup, kita dapat berkata seperti apa yang Tuhan Yesus katakan, yaitu: “sudah selesai.” Kita sudah selesai menjalankan misi kita di dunia ini. 
Amin…